5 April 2011

Sejumlah Temuan dalam Telisik Literasi atas Polemik Plagiarisme Karya Malloch
oleh Ilham Q Moehiddin pada 03 April 2011 jam 23:59

Apa Benar Taufiq Ismail Melanggar Licentia Poetica?

(Sejumlah Temuan dalam Telisik Literasi atas Polemik Plagiarisme Karya Malloch)



oleh Ilham Q. Moehiddin





POLEMIK perihal dugaan plagiarisme yang dilakukan Taufik Ismail seketika merunyak akhir-akhir ini. Polemik ini seketika menjadi ‘hebat’ sebab ikut menyeret nama penyair besar sekelas Taufiq Ismail, yang oleh Paus Sastra Indonesia, HB. Jassin, dikelompokkan ke dalam penyair angkatan ’66.

Pada mulanya, seorang cerpenis wanita, Wa Ode Wulan Ratna, memposting sebuah karya Douglas Malloch dalam catatan di akun Facebook-nya. Karya Malloch yang sejatinya berjudul ‘Be The Best of Whatever You Are’ itu terposting berupa terjemahan berjudul ‘Akar-akar Pohon’.

Tak sengaja saya membaca puisi itu, dan merasa dejavu. Serasa saya pernah membaca atau mendengar puisi macam itu, entah dimana. Lalu saya teringat pada programa Jika Aku Menjadi Special Ramadhan stasiun TransTV yang ditayangkan sebelum berbuka puasa pada Ramadhan 2010. Pada tayangan itu, aktris Asri Ivo membacakan puisi ‘Kerendahan Hati’. Caption pada tayangan itu juga menampilkan nama Taufik Ismail sebagai pencipta puisi tersebut.

Tanpa memuat prasangka apalagi tuduhan, sayapun ikut mem-posting dua entitas puisi itu ke akun Facebook saya, pada 25 Februari 2011, sekadar mengajak beberapa sastrais dan budayawan untuk berdiskusi perihal itu. Benar saja, postingan itu memancing diskusi dan debat. Semenjak itulah, ‘dugaan samar’ ini menyebar kemana-mana. Diskusi dan polemik seputar ini seketika menyeberang ke Twitter, dan menjadi ramai di sana.





Telisik Literasi pada Kedua Puisi



Menurut pendapat saya, akar polemik ini sungguh patut dipertanyakan. Jika benar seperti apa yang dituduhkan orang kebanyakan pada Taufik Ismail, maka upaya itu tidak bisa sekadar disebut meringkas, menyadur, ataupun mentranskrip. Jika diperhatikan secara saksama, apa yang tertulis sebagai puisi Douglas Malloch yang kemudian dituliskan sebagai milik Taufik Ismail, tak memenuhi ketiga unsur di atas.

Jika dikatakan meringkas, maka perilaku meringkas sangat sukar dikenakan pada entitas puisi, sebab akan otomatis melanggar licentia poetica. Apa benar penyair besar Taufiq Ismail dengan sengaja melanggar licentia poetica? Saya tak sepenuhnya yakin dia melakukan itu. Kemudian, jika dikatakan menyadur, maka Taufik Ismail tak tampak sedang menyadur puisi Douglas Malloch.

Menyadur adalah menyusun kembali cerita secara bebas tanpa merusak garis besar cerita, biasanya dari bahasa lain. Menyadur juga diartikan sebagai mengolah (hasil penelitian, laporan, dsb.) atau mengikhtisarkan (Kamus Besar Bahasa Indonesia 2002: 976). Dengan demikian, menyadur mengandung konsep menerjemahkan secara bebas dengan meringkas, menyederhanakan, atau mengembangkan tulisan tanpa mengubah pokok pikiran asal. Hal penting yang harus kita ketahui ialah bahwa dalam menyadur sebuah tulisan, ternyata kita diperkenankan untuk memperbaiki bentuk maupun bahasa karangan orang lain, misalnya dalam kasus karangan terjemahan.

Sayangnya, penyaduran tidak bisa serta-merta diberlakukan pada puisi, sebab ada aspek bahasa, bunyi dan makna, yang belum tentu dapat diinterpretasikan secara tepat oleh penyadur. Jika penyaduran dilakukan pada cerpen, dan novel berbahasa asing, maka proses yang dijelaskan pada KBBI sudah tepat. Suatu hal yang tidak boleh kita lupakan dalam menyadur adalah dengan meminta izin, mencantumkan sumber tulisan berikut nama penulisnya.

Cobalah simak puisi Be The Best of Whatever You Are, karya Douglas Malloch ini.



If you can’t be a pine o the sop of the hill,

Be a scrub in the valley – but be

The little scrub by the side of the hill; (1)

Be a bush if you can’t be a tree



If you can’t be a bush be a bit of the grass

And some highway happier make (2)

If you can’t be a muskie then just be a bass

But the leveliest bass in the lake



We can’t all be captains, we’ve got to be crew (3)

There’s something for all of us here

There’s big work to do, and there’s lesser to do

And the task you must do is the near



If you can’t be a highway the just be a trail (4)

If you can’t be the sun, be a star

It isn’t by size you win or you fail

Be the best of whatever you are (5)





Puisi Douglas Malloch ini adalah puisi berjenis kuatrain dan berada di jalur tengah aliran kepenyairan. Douglas Malloch, dalam puisinya ini, jelas sekali hendak mendudukkan pokok pikirannya sebagai masonic yang berkaitan dengan kehidupannya sebagai penebang kayu, secara terurut, tanpa putus. Artinya, jika hanya hendak menekankan pada kebaikan setiap orang untuk ‘menjadi yang terbaik dengan cukup menjadi dirinya sendiri’, maka Douglas Malloch tak perlu menuliskannya hingga empat bait. Pesannya bisa langsung sampai hanya dalam dua atau tiga bait saja. Inilah mengapa proses penyaduran tidak bisa dilakukan pada puisi.

Sekarang, simaklah puisi Kerendahan Hati karya Taufik Ismail berikut.



Kalau engkau tak mampu menjadi beringin

yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,

yang tumbuh di tepi danau



Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang

memperkuat tanggul pinggiran jalan



Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil,

Tetapi jalan setapak yang

membawa orang ke mata air



Tidaklah semua menjadi kapten

tentu harus ada awak kapalnya…

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi

rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu….

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri





Pada terminologi penyaduran, bentuk reposisi dan pengembangan masih diperbolehkan. Tetapi jika diperhatikan lebih saksama (terutama pada larik-larik yang dimiringkan) tampak sekali beberapa larik sengaja dihilangkan, dan, atau menggantinya dengan larik berbeda.

Ada dua larik pada puisi Douglas Malloch yang hilang, yakni; If you can’t be a muskie then just be a bass/ But the leveliest bass in the lake//

Lalu, berganti dengan larik berbeda pada puisi Taufik Ismail, yakni; Tetapi jalan setapak yang/ membawa orang ke mata air//

Apakah penghilangan dan penggantian ini disengaja? Jika melihat terjemahan dua larik puisi Douglas Malloch, dan membaca dua larik baru pada puisi Taufik Ismail, maka jelas sekali bahwa penggantian tersebut disengaja. Pengubahan, atau penggantian ini dari sisi licentia poetica seharusnya tidak boleh terjadi, sebab telah mengubah makna dan bunyi puisi Douglas Malloch. Inikah yang disebut penyaduran?

Pertanyaan ini dijawab dengan tuntas oleh Gorys Keraf. “Sebuah bentuk ringkasan dari sebuah tulisan hendaknya tetap menekankan sisi konsistensi akan sebuah urut-urutan sesuai dengan ide atau gagasan pengarang. Begitu halnya saat kita menyadur, hal tersebut juga berlaku—tetap mempertahankan ide dari naskah asli.” Tegas Keraf dalam buku Komposisi (1984:262, Flores. Penerbit Nusa Indah).





Yang Luput dari Taufik Ismail.



Menarik disimak, adalah dua larik yang tadi telah dibahas di atas, yang entah mengapa luput oleh Taufik Ismail dimasukkan ke dalam puisinya. Dua larik itu adalah; If you can’t be a muskie then just be a bass/ But the leveliest bass in the lake//

Sebagai satu kesatuan dari bunyi dan makna yang dikatakan Keraf, maka dua larik yang luput itu seharusnya tetap ada untuk mengikat dua larik sebelumnya; If you can’t be a bush be a bit of the grass/ And some highway happier make//

Lemah dugaan saya, bahwa Taufik Ismail tidak mengetahui persis makna kata muskie dan bass dalam dua larik puisi Douglas Malloch itu.

Dua kata dalam larik puisi Douglas Malloch itu memang tidak ditemukan dalam dalam kamus besar Bahasa Inggris (The Contemporary English-Indonesian Dictionary, Drs. Peter Salim, M.A.). Rasa penasaran pada kata lake (danau), yang membawa saya pada dua jenis ikan yang berhabitat di danau primer dan sepanjang sungai besar di Amerika Serikat.

Musky adalah sejenis ikan besar, yang masih satu genus dengan Arwana dari Amazon. Muskie adalah nama dalam bahasa pasar masyarakat setempat, untuk ikan Musky, yang hidup di danau-danau di Minnesota. Sedang Bass adalah nama setempat untuk ikan smallmouth (salmon). Ikan dengan ukuran tubuhnya jauh lebih kecil dari ikan Muskie. Habitatnya di sungai-sungai primer di Amerika Utara. Itulah mengapa kata Muskie dan Bass tidak terdapat di dalam kamus.

Sehingga untuk mengisi kekosongan dua larik yang terlanjur menggantung pada satu bait tersebut, Taufik Ismail kemudian menggantinya dengan; Tetapi jalan setapak yang/ membawa orang ke mata air//

Jika merujuk pada Keraf, maka penggantian ini jelas sekali telah mengubah secara drastis ide dan gagasan pengarang. Artinya, paham atau tidaknya Taufik Ismail pada dua kata tersebut, tidak dapat dijadikannya alasan untuk mengganti dua larik pada puisi Douglas Malloch dengan dua larik baru. Maka, terang saja, Taufik Ismail tidak saja gagal menyembunyikan fakta, bahwa dirinya tidak sekadar terinspirasi keindahan makna puisi Douglas Malloch, sehingga tanpa sadar atau tidak terperangkap dalam bentuk plagiarisme.

Lalu, apakah ada kemungkinan penyair sekaliber Taufiq Ismail akan melakukan hal ini? Wallahu’alam.





Bantahan dan Sejumlah Bukti



Keterangan Redaktur Majalah Sastra, Horison, Fadli Zon, yang juga kemenakan Taufiq Ismail, dalam bantahan yang termuat pada PedomanNews.com, bahwa, Taufiq Ismail mengatakan padanya merasa pernah membahas puisi itu atau menerjemahkan puisi itu dalam kegiatan SBSB atau MMAS di sekolah-sekolah, ikut membuktikan bahwa pernah ada terjadi persentuhan antara Taufiq Ismail dengan puisi Douglas Malloch.

Pada buku Terampil Berbahasa Indonesia Untuk SMP/MTs Kelas VIII, yang disusun oleh Dewaki Kramadibrata, Dewi Indrawati, dan Didik Durianto yang diterbitkan Pusat Perbukuan, Diknas RI. Pada Pelajaran 11, bagian C: Menulis Puisi Bebas dengan Memperhatikan Unsur Persajakan; halaman 198, dengan jelas dapat ditemukan puisi Kerendahan Hati karya Taufik Ismail.

Tidak ada keterangan sumber di bawah puisi Taufik Ismail pada halaman tersebut. Rupanya para penyusun memasang puisi itu dan meninggalkan sumbernya pada daftar pustaka. Artinya, keterangan soal latar belakang dan darimana sumber yang digunakan hanya tim penyusun yang bisa menjawabnya.

Apakah peneraan puisi Kerendahan Hati karya Taufik Ismail itu sepengetahuan Taufiq Ismail? Ini dengan terang sudah dijawab sendiri oleh Taufiq Ismail yang disampaikan oleh Fadli Zon, bahwa Taufiq Ismail memang terlibat dalam kegiatan SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) atau MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra) di sekolah-sekolah.

Masih menurut Fadli, puisi Kerendahan Hati yang beredar, nama pengarangnya ditulis sebagai Taufik Ismail. Padahal, nama penyair itu memakai "q" pada nama Taufiq-nya, bukan "k". Jadi bisa jadi apa yang digunjingkan itu salah orang. Demikian pembelaan Fadli, yang dikutip Tempo Interaktif, Jumat 1 April 2011.

Kendati adalah penting menuliskan nama seseorang secara benar dalam sebuah literasi (khususnya pada pemberitaan), namun agaknya Fadli Zon tidak memeriksa dengan teliti sebelum melontarkan bantahannya. Keliru serupa ini kerap terjadi pada tera nama Goenawan Mohamad yang sering dituliskan orang dengan Gunawan Muhammad. Kendati dituliskan keliru, ingatan kolektif orang tetap merujuk pada satu sosok. Apalagi, baik Goenawan Mohamad dan Taufiq Ismail adalah dua nama besar penyair, sastrawan dan budayawan Indonesia.

Pada puisi Kerendahan Hati yang termuat dalam buku Diknas di atas, nama penyair itu dieja dengan huruf akhir ‘k’. Pun pada beberapa terbitan Horison Sastra Indonesia sendiri, kerap dituliskan “Ismail, Taufik, dkk (penyunting). 2011. Horison Sastra Indonesia. Jakarta: The Ford Foundation”, sebagai salah satu contohnya.

Kemudian pengejaan ‘Taufik Ismail’ juga ditemukan pada kata sambutan dalam buku The Lady Di conspiracy : Misteri Dibalik Tragedi Pont de L’Alma, karya Indra Adil, terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2007.

Artinya, dalil Fadli Zon perihal huruf akhir pada nama penyair itu seketika patah. Sebab, apabila karakter penulisan nama tersebut dianggap penting, tentulah hal ini telah diperhatikan benar sejak lama. Tidak setelah polemik ini mengemuka.





Pada berita yang sama, Fadli Zon juga mengungkapkan tak dia temukan puisi Kerendahan Hati dalam empat buku karya-karya Taufiq Ismail. Salah satunya kumpulan puisi tahun 1953-2008 berjudul Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit, (Mei, 2008) setebal 1076 halaman. "Di buku itu saya tidak menemukan puisi berjudul 'Kerendahan Hati'," katanya. Menurut Fadli, Taufiq Ismail juga menerjemahkan puisi 160 penyair Amerika yang dikumpulkan dalam buku "Rerumputan Dedaunan" dan hingga saat ini belum diterbitkan. Dalam terjemahan tersebut tak ada puisi Douglas Malloch.

Keterangan Fadli ini bisa saja dipercaya, namun sebenarnya tidak berkorelasi langsung dengan isu yang sudah terpolemik. Buku kumpulan puisi MBML itu terbit pada 2008, sementara itu buku Terampil Berbahasa Indonesia itu terbit pada tahun yang sama. Sedang pada 2009, puisi itu masih sempat dibacakan pada programa Jika Aku Menjadi Special Ramadhan 2010 di TransTV. Program MMAS dan SBSB yang dimana Taufiq Ismail dan Majalah Horison terlibat langsung sudah dilaksanakan sejak tahun 1998 hingga 2008. Bahkan beberapa puisi Kerendahan Hati karya Taufik Ismail sudah terposting di beberapa blog sejak 2006.

Sejumlah sinyalemen ini secara tidak langsung membentuk premis terhadap kehadiran karya tersebut dalam kurun waktu 1998 hingga 2008.



Dari telisik literasi ini, kini, siapapun boleh menarik kesimpulan masing-masing, perihal polemik pada entitas puisi karya Douglas Mulloch itu. Telisik literasi ini tidak hendak mencuatkan sebuah masalah yang selama ini kerap merisaukan kalangan sastrawan; plagiarisme

Telisik literasi inipun tidak dalam posisi menuduh siapapun telah melakukan plagiat. Bahwa sebagai telisik literasi, ada baiknya ini dijadikan pembelajaran pada masa selanjutnya, bahwa penghargaan atas sebuah karya sastra/literasi sebaiknya memang diberikan pada sosok pengkaryanya. Demikian. ***





Puisi "Kerendahan Hati" karya Taufik Ismail dalam buku Terampil Berbahasa Indonesia Untuk SMP/MTs Kelas VIII, yang disusun oleh Dewaki Kramadibrata, Dewi Indrawati, dan Didik Durianto yang diterbitkan Pusat Perbukuan, Diknas RI. Pada Pelajaran 11, bagian C: Menulis Puisi Bebas dengan Memperhatikan Unsur Persajakan; halaman 198.
SukaTidak Suka · · Bagikan

*
*
Adhy Rical, Soe Tjen Marching, Heryus Saputro dan 61 lainnya menyukai ini.
*
o
Alfa Kamila
Meski pun saya tidak paham atas permasalahan yg trjadi.
Tapi saya berharap ini segera terjwb dan terbukti. Saya tetap menyimpan positif thinking pada Ayahanda Taufik Ismail.
Kmrin2 sya sempat bertanya2 tentang status Bang Chavchay tentang kes...iapan beliau membela taufik ismail. Barangkali ctatan ini jwbn"aLihat Selengkapnya
Kemarin jam 10:48 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin
Ya...saya pun sejujurnya tak sepenuhnya menaruh dugaan bahwa pak Taufiq melakukan apa yg dituduhkan. Saya menaruh hormat kepada beliau.

Telisik literasi ini semoga bisa mengurai benang kusut polemik. Ini saya lalukan semata-mata sekadar tan...ggungjawab perihal fakta dan data dalam literasi. Makanya, saya tampilkan semua sudut, semua bantahan, semua klaim langsung dalam satu badan utuh tulisan ini. Dalam telisik ini, jelas sekali saya memisahkan antara "Taufik Ismail" dan "Taufiq Ismail". Sebab sy pun menaruh harap bahwa jika ada penulis yg bernama Taufik Ismail, maka segeralah mengklarifikasi ini agar tidak semakin kusut.

Selanjutnya, silahkan menyimpulkan sendiri.
Wallahu'alamLihat Selengkapnya
Kemarin jam 15:06 · SukaTidak Suka · 3 orang3 orang menyukai ini.
o
Goenawan Monoharto ‎.......???
Kemarin jam 15:22 · SukaTidak Suka
o
Alfa Kamila
Sejak membaca judulnya saya sudah tertarik dengan tulisan pak Ilham ini.
Saya kira tulisan ini objektif tidak memihak pada apapun dan siapapun. Sebagai orang yg awam terhadap sastra dan tidak begitu mengikuti perkembangan sastra saya merasa ...mendapat banyak hal yg baik dgn membaca tulisan ini. TerimakasihLihat Selengkapnya
Kemarin jam 15:35 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin
‎^_^ Terima kasih mba Alfa
sejak awak polemik ini bergulir saya memang bersikap objektif. Saya imparsial saja. Di satu sisi, sy tdak percaya pak Taufiq melakukan hal serendah itu. Tapi, di sisi lain tetap ada premis bahwa di dunia ini segala... hal mungkin saja terjadi.
Inilah mengapa sy melakukan telisik literasi ini, agar bisa mendudukkan masalah pd tempatnya, dan semua pihak tak dirugikan sehingga masalah selesai.
Dunia sasta Indonesia terlalu sangat sempit untuk kita buat jadi arena bertarung diantara kita sendiri. Tak elok. :)
Semoga bermanfaat dan memberi pembelajaran :)Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 15:41 · SukaTidak Suka
o
Dwi Klik Santosa Polemik akan menjadikan kita semua pintar. Semakin polemik, semakin asyik.
Kemarin jam 15:42 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin Cuman dua dampak polemik itu...
Kita makin pinter, dan kita terpecah-belah.
Kita mendapat keuntungan dari satu sisi, sedang disisi lainnya kita merugi.
Bukan begitu? ^_^
Kemarin jam 15:47 · SukaTidak Suka
o
Wa Ode Wulan Ratna aku hanya memposting, karena beberapa temanku membacakan puisi TI dan aku sering membaca puisi "Akar-Akar Pohon" tersebut di Teater Terbuka kampusku. sejujurnya aku merasa lebih dekat dan suka dengan puisi DM tanpa ada niat apa2.dan tanpa ada dugaan yang negatif terhadap puisi TI.
Kemarin jam 16:27 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin Begitulah yg sebenarnya. Aku bisa mendukung keteranganmu, Ratna ^_^
Kemarin jam 16:30 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Wa Ode Wulan Ratna makasih mas ;-)
Kemarin jam 16:32 · SukaTidak Suka
o
Dwi Klik Santosa
Selalu mengandung resiko dari setiap polenik yang muncul mas Ilham. Saya pernah ngikuti polemik yang panjang (kalau nggak salah tahun 1997) di koran kompas, seputar Soliloqui antata Nirwan Dewanto - Afrizal Malna - Budi Darma - Ignas Kleden... ... yang paling keras adalah duel argumen antara Mas Afrizal dan Mas Nirwan .. dan Pak Ignas dan Pak Budi sebagai penyeimbangnya .... sedangkan tema plagiarisme pernah muncul menonjol, dugaan pada Rendra dan Sutardji ... saya mengambil hikmah dari peristiwa itu .. tak ada yang benar-benar plagiat ... tapi efek dari polemik, luar biasa ... saya jadi hepi. banyak tahu .. dan makin akrab, siapa itu bang Tardji, atau siapa itu Rendra ... ya, asalkan Pak TI-nya bisa menjelaskan dan gamblang seperti Bang Tardji dan Rendra ngomong itu .. ya, jadi asyik-asyik saja ... namun kiranya, tak usah terlalu dipaksakan .. sebenarnya tanpa sadar, saya yakin, keidentikan (atau entahlah plagiarisme) itu menjadi kebiasaan kita sebenarnya ... cuma masalahnya kita ini bukan public figur, ya ... mungkin beda cara memberikan atensinya ...Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 16:36 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin
Hehehehe..iya saya ingat "perang" itu.
Polemik akan memberi "cerah" ada entitas diluar pihak yg berpolemik. Tapi, sekaligus..membangun syak-wasangka pada pihak2 yg berpolemik.
Dan, artikel ini hanya telisik literasi saja, sama seperti telis...ik literasi lainnya yang pernah saya buat. Tak ada syak-wasangka disini. Orang2 yg saya tag-pun saya yakin adalah kawan2 yg bersih dari prasangka. ^_^
Tulisannya inipun, dengan bernas memisahkan antara "Taufik Ismail" dan "Taufiq Ismail". Saya pun masih sepenuhnya menduga bahwa mereka adalah dua orang berbeda.
Semau sangkaan, semua bantahan, semua data, semua fakta oleh masing2 pihak tersaji dalam satu tulisah utuh, tidak terpisah.Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 16:43 · SukaTidak Suka
o
Syaifuddin Gani Di situs Indonesia Buku, sudah jelas duduk perkaranya soal ini. Itu bukan puisi Pak Taufik Ismail. Dan saya kira beliau penjaga moralisme dlam sastra Indonesia. Dari berita yang saya baca, Pak TI akan menempuh jalur hukum soal tuduhan plagiarisme itu. Ini dia: http://indonesiabuku.com/?p=8874
Kemarin jam 16:56 · SukaTidak Suka · 1 orangIlham Q Moehiddin menyukai ini.
o
Ilham Q Moehiddin
‎^_^ Benar. Taufiq Ismail akan menempuh jalur hukum atas tuduhan itu pada Bramantyo. Keterangan dari situs Indonesia Buku adalah salah satu sumber telisik literasi ini.
Bramantyo memang tidak sopan (memaki) dalam statusnya. Jadi, biarlah mer...eka berperkara.Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 17:03 · SukaTidak Suka · 1 orangMadiana Havidz menyukai ini.
o
Syaifuddin Gani kita akan melihat, jika kaus ini dibawa ke jalur hukum. siapakah yang benar. apakah itu memang puisi hasil plagiasi, puisi karya taufik (bukan q) ismail, atau bagaimana. yang jelas, saya berkhusnudzan...
Kemarin jam 17:03 · SukaTidak Suka
o
Wa Ode Wulan Ratna alhamdulillah ;)
Kemarin jam 17:05 · SukaTidak Suka
o
Pratiwi Setyaningrum hehehe.. menunggu tanggapan penuh itikad baik dari Bapak Taufik Ismail yb saja aku mah..
tapi kalo ybs diem aja kurasa itu juga haknya. Sekaligus hak kita tuk menilai dia dari hal hal yang kita ketahui. ngoten mawon lah.
Kemarin jam 17:06 · SukaTidak Suka
o
Syaifuddin Gani pak taufik sudah beri jawaban atas tuduhan itu, dan jelas pak taufik katakan itu bukan karyanya. untuk jelasnya, buka ini: http://indonesiabuku.com/?p=8874
Kemarin jam 17:07 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin
Puisi itu jelas milik Taufik Ismail.
Tapi bukan puisi pak Taufiq Ismail. ^_^
Saya pun tidak percaya kalok pak Taufiq melalukan itu. Hanya cuman sebuah puisi Malloch, saya tidak yakin dia mau mencoreng keningnya. Pak Taufiq itu Islamnya keras..., jadi mana mungkin mengidolakan Malloch yg masonic.Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 17:08 · SukaTidak Suka
o
Syaifuddin Gani saya sepaat dgn bang ilham. ni ada juga link yg bisa dibuka soal itu: http://www.facebook.com/note.php?saved&¬e_id=10150144328766643#!/katrinbandel/posts/136475486424293
Kemarin jam 17:09 · SukaTidak Suka
o
Ilham Q Moehiddin Link-nya tak bisa dibuka ^_^
Kemarin jam 17:17 · SukaTidak Suka
o
Pratiwi Setyaningrum link pertama bisa dibuka. link kedua..
Kemarin jam 17:34 · SukaTidak Suka
o
Pratiwi Setyaningrum yak. link kedua tak bisa dibuka.
Kemarin jam 17:34 · SukaTidak Suka
o
Pratiwi Setyaningrum jadi beda "q" ama "k" aja ya?
Kemarin jam 17:35 · SukaTidak Suka · 1 orangIlham Q Moehiddin menyukai ini.
o
Ilham Q Moehiddin Kira2 begitu..menurut mas Fadli :)
Kemarin jam 17:35 · SukaTidak Suka
o
Wa Ode Wulan Ratna apakah pak Taufi(k) Ismail sudah dihubungi mengenai puisi ini?
Kemarin jam 17:40 · SukaTidak Suka
o
Ilham Q Moehiddin Telisik/Uji literasi diatas dengan jelas membedah...semua sangkaan, semua bantahan. Ada data yg ditampilkan. Ada fakta yang dirujuk. Nah, silahkan mennginterpretasikannya sendiri2. Silahkan mendudukkan konklusi masing2 perihal masalah ini, ya..hehehehe ^_^
Kemarin jam 17:41 · SukaTidak Suka
o
Pratiwi Setyaningrum untung beda. wkwkwkwk.
Kemarin jam 17:42 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin Saya tidak berkompeten menyodorkan apa2. Biar mereka sendiri saling membuktikan, dengan merujuk bukti masing2. Saya hanya mau menunjukkan ini pada kawan2 dan sahabat2 saya (para yg ter-tag). ^_^
Kemarin jam 17:43 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Pratiwi Setyaningrum makachiiih ^_^)
Kemarin jam 17:44 · SukaTidak Suka
o
Cepi Sabre
sepertinya masih bakal panjang nih urusan, bung ilham. kupikir, bahwa puisi om taufik [k atau q] itu tidak terbantahkan sangat mirip dengan malloch. fokusnya sekarang ke 'k' dan 'q' ya? hehehe ...

kita kembalikan saja kepada om taufiq. kalau... memang tidak, tentu ada pembelaannya. yang menuduh, tentu juga harus memberikan bukti-bukti kan? kan.Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 17:49 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin
Benar bung Cepi. Memang akhirnya dikembalikan ke Beliau. Bantahan Rumah Puisi pun sudah termuat. Itu bisa jadi secercah langkah terang.

Tetapi, jika masalahnya "K" atau "Q", bukankah telisik literasi di atas juga sepertinya mementahkan asums...i itu? Tapi entahlah, ini masalah kebesaran hati...(bukan "kerendahan hati" loh ya..hehehehe)

Entah kenapa Bramantyo membuat status sambil menghujat dan menuduh. Karenanya memang, Bramantyo harus membuktikan tuduhannya. Tapi, pihak tertuduhpun, harus membuktikan sangkalannya. Iya, kan? HeheheLihat Selengkapnya
Kemarin jam 17:55 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Yonathan Rahardjo Permisi Mas Ilham Q Moehiddin, saya kopi paste tulisan Mas di wall saya dan beberapa kawan, untuk pencerahan. Terimakasih. Dahsyat Mas, tulisan Mas
Kemarin jam 18:01 · SukaTidak Suka
o
Cepi Sabre
kukira ini karena taufiq ismail tidak pernah mampu melepaskan dirinya akan kenangan pada lekra. kalau ditelusuri jejaknya sampai jauh, ini bisa dibilang dimulai dari magsaysay award buat pram. yang paling mutakhir --tentu saja-- bedah buku ...asep sambodja [alm] di pds.

tak tahulah saya bagaimana itu semua sebenarnya. saya jauh dari pusat itu. hanya membaca saja. sekilas-sekilas.

tapi yang paling berat adalah nama besar memang, bung ilham. plagiarisme tidak akan membunuh siapapun. tapi bisa membuat seseorang hancur berkeping-keping. kudengar om bramantyo sudah meralat pernyataannya. tapi aku belum menemukan tautannya. sayang sekali tautan dari mba katrin tidak bisa dibuka ya?

kulihat, om halim ada di daftar tag-mu. om halim sempat disebut di beberapa tautan berita itu. mungkin beliau lebih mengerti.

salam buat om halim hade ya. hehehe ...Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 18:03 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin Yonathan Rahardjo >>
Silahkan mas. Tapi mohon tidak mengubah apapun. Saya tidak ingin telisik ini berubah menjadi liar dan memancing perdebatan baru. Sebab ini hanya telisik biasa, yg tujuannya untuk menjernihkan masalah. ^_^
Kemarin jam 18:06 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Yonathan Rahardjo siap Mas. saya kopi paste apa adanya. terimakasih. salam juang.
Kemarin jam 18:09 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin
Permintaan maaf Bramantyo sudah dilontarkan langsung dalam statusnya yang ada perdebatan antara dia dan fadli itu. Plagiarisme memang "menyebalkan", bung Cepi.
Aku menentangnya...sebab aku sangat percaya bahwa kreatifitas tak akan pernah ma...ti, selama otak dan hati bekerjasama.

Link Bramantyo:
http://www.facebook.com/bramantyo.prijosusilo/posts/10150114632971199Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 18:13 · SukaTidak Suka
o
Faradina Izdhihary Pak Ilham, lepas dari kekaguman saya sampai nurani terdalam pada Pak TI, sekedar berbagi bahwa MMAS itu tidak berkaitan dengan para penyusun buku paket itu. Setahuku, peserta MMAS adalah para guru dari seluruh wilayah Indonesia yang ditunjuk langsung dari Jakarta. Aku tak berani berpolemik bila pada akhirnya, status "kehalalannya" sangat berdekatan dengan fitnah. Takut, Sakitnya difitnah.... waduuuh seperti dibunuh pelan2. Matur nuwun telah ditagg
Kemarin jam 18:45 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin
Mba Farad>>
Memang tidak ada hubungan antara MMAS dan Buku Paket, sebab keduanya dalah program berbeda. Sebab apa yg mba Farad ceritakan itu jelas sekali pada situs Rumah Puisi dan Diknas.
Tulisan ini tidak mengajak siapapun berpolemik. Ini ...bukan polemik. Ini telisik terhadap beberapa literasi yg mungkin bisa membuat terang masalahnya.
Menurtu Fadli, pak Taufiq Ismail pernah "merasa" membahas puisi itu pada kegiatan MMAS di hadapan guru-guru. Keterangan ini mengandung arti; mas Taufiq pernah bersinggungan dengan puisi ini, tapi belum tentu beliau pernah mengklaim puisi ini.
Lalu, puisi itu muncul di buku pelajaran Bahasa Indonesia.
Program itu dijalankan antara kurun waktu 1998-2008. Sedang buku itu diterbitkan pada kurun waktu yg hampir bersamaan. Maka ada kemungkinan ketiga pengarang buku paket itu mengambil sebagian materi yang ada dalam laporan MMAS untuk dijadikan pengayaan dalam buku paket yang mereka buat.
Makanya saya memberi keterangan, bahwa yang bisa menjawab perihal munculnya puisi itu dalam buku mereka, hanyalah ketiga pengarang itu. ^_^Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 18:57 · SukaTidak Suka
o
Faradina Izdhihary hm... jujur, penjelasan itu tadi , bahkan sejak kemarin yg saya tangkap, saya kira. Kemungkinan penulkis meminta izin penyair yang puisinya dikutip itu kecil banget. Contoh: saya pakai buku Bhs Ind Program Bhs, kelas XI, ada puisi beberapa teman di FB, saya tanya eh beliau kaget. Begitu pun ada kutipan cerpen dr blog2, atau puisi teman2 FB waaah dg bangga aku ceritain ke siswaku tentang teman2 itu. Eh, saat tuh teman kuberitahu karyanya dikutip di buku atau LKS, mereka gak tahu menahu. So....?
Kemarin jam 19:02 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin
Nah, itulah yang mesti ditanyakan pada para pengarang buku paket proyek Diknas itu. Saya hanya menyajikan fakta bahwa..ada loh puisi itu dalam buku paket.
Benar, seperti yg mba Farad ungkapkan...bahwa jika bisa dianggap teledor, maka para p...engarang itu telah teledor memasukkan materi pengayaan dari laporan MMAS milik Diknas. Mengapa tak minta ijin? Toh itu adalah proyek pusat.
Kemungkinan mereka mengambil sangat besar, sebab Program MMAS dan Proyek Pengadan Buku Paket kan masih berada dalam wadah Diknas.Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 19:08 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Yadhi Rusmiadi Jashar
Izin Mas. Pada akhirnya, yang menuduh dan tertuduh harus memiliki argumen yang kuat. Langkah TI, jika benar dilakukan, adalah pembelajar yang sangat berharga bagi kita semua. Di satu pihak, kita harus memiliki basis data yang cukup sebelum ...melempar tuduhan. Di pihak lain, TI maksudnya, jika memang tidak melakukan plagiarisme, selain namanya terrehabilitasi juga akan semakin mengukuhkan namanya di hutan sastra indonesia. Di pihak yang lain lagi, akan lebih berhati-hati jika punya niat jahat memplagiasi karya orang (urusannya bisa runyam). Ini pembelajaran berharga. Sangat berharga. Terima kasih, atas telisiknya. Mohon izin copas untuk kepentingan akademik. Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 19:36 · SukaTidak Suka · 3 orangMemuat...
o
Faradina Izdhihary Alhamdulillah... senang rasanya kalau sekiranya semua dibicarakan baik2 tanpa buruk sangka. Bukankah setiap masalah bs diselesaikan dg perbincangan baik2? Gak langsung main gradak gruduk, nuduh sana nuduh sini. lagian kita jg gak tahu duduk permasalahan sebenarnya.
Kemarin jam 19:40 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Maman S Mahayana
Maaf, Boleh urun rembuk. Ada MMAS, ada buku paket, dan ada puisi Kerendahan Hati, Taufik Ismail. MMAS dan buku paket itu dua hal yang sama sekali tidak ada hubungannya. Meski dalam satu wadah, ppenanggung jawabnya beda, panitianya beda, bid...angnya beda. Problem para penulis buku paket adalah kemalasan memeriksa sumber. Saya pernah memeriksa soal untuk Ujian Nasional, di sana begitu banyak nama sastrawan salah penulisannya, salah menyebut karyanya, puisi Toto Sudarto disebut sebagai puisi Ajip Rosidi, dst. Kesalahan model begini menunjukkan parahnya semangat memeriksa sumber. Bahkan A. Teeuw, dan beberapa penulis buku sejarah, juga dalam beberapa bagian, keliru menyebutkan sumber. Jadi, saya sangat yakin, penulis buku paket itu telah keliru atau malas memeriksa sumber terpercaya. Bahkan, sangat mungkin mereka tidak meminta izin penulisnya dan main comot saja. Nah, perkara MMAS, itu pelatihan guru tentang membaca, menulis dan apresiasi sastra. Bahan untuk pelatihan itu adalah majalah horison dan beberapa puisi yang disusun tim MMAS, itu pun lebih banyak pada tecara menulis pantun dan seturusnya. Semoga uraian ini melengkapi informasi tentang polemik di atas. Terima kasihLihat Selengkapnya
Kemarin jam 19:43 · SukaTidak Suka · 4 orangMemuat...
o
Faradina Izdhihary Tampaknya tim revewer nya hrs lbh cermat mengevaluasi naskahnya ya Pak? Semisal hrs ada ahli sastra, ahlki bahasa.... serta seperti penulisan skripsi, tesis, atau karya ilmiah lainnya, para reviewer itu hrs ngecek (misal langsung pd penyusun buku) kebenaran kutipan dan kelegalan mengutipnya. hehehe berat tapi akan berbobot.
Kemarin jam 19:47 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Shinta Miranda betul atau tidaknya TI, mengaku atau mengelaknya TI, ruh dan tujuan makna puisi itu adalah milik Malloch -
Kemarin jam 19:50 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Faradina Izdhihary Tak ada yang menyangkal Mbak. Bahkan TI pun tak mengakuinya, bukan?
Kemarin jam 19:51 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin
‎>>
Mas Maman S.M telah lebih bernas dan terang menjelaskan perihal "kendala besar" dalam program buku paket pemerintah. ^_^

Seperti yg saya terangkan MMAS memang benar tak berhubungan langsung dengan buku paket sebab mereka program terpisah.... Tapi rupanya tim2 penyusun buku paket seenaknya mencomot tanpa konfirmasi bahan2 pengayaan yg mereka dapatkan sendiri (atau berasal dari rekaman materi milik Diknas).
Parahnya, seperti yang diungkap mas Maman S.M., mereka tidak melakukan re-edit atau faktualisasi data. Padahal tak repot dan tak mahal membayar seorang korektor untuk memeriksa buku2 itu sebelum laik cetak. Ada apa dengan Diknas kita? Apakah begini model project buku mereka?
Buku paket itu adalah buku untuk SD-SLTP-SLTA. Artinya, jika mereka menyusunnya saja tidak teliti, lalu bagaimana output anak didik yg menyerap buku2 "keliru" itu. Mereka, anak2 itu akan membawa2 hal keliru dalam proses mereka selanjutnya.Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 20:01 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Faradina Izdhihary Nah..... tahu kan betapa beratnya jadi guru yang benar dan bertanggung jawab???? Harus tahu dan pandai memilah yang benar dan salah.... Parahnya buku sering dicetak memburu pasar dan musim panen (awal tahun ajaran baru?) Sy sendiri banyak dan seringkali menemukan kesalahan2 itu.
Kemarin jam 20:05 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Yadhi Rusmiadi Jashar
Saya sepakat dengan Pak Maman SM dan Mbak Faradina, parahnya lagi, jika ditelisik lebih dalam, LKS yang dijual 10ribuan (biasanya dikelola koperasi sekolah) sangat tidak memenuhi standar kurikulum. Kesalahan sangat banyak ditemukan. lebih p...arah lagi, guru bidang studi kadang tidak punya kuasa menolak LKS tersebut. Salah kutip sangat banyak ditemukan, bahkan Ada beberapa LKS yang tak berizin Diknas. Okelah, itu soal lain. Saya ingin masalah ini clear dan tak meninggalkan residu apa pun di belakangnya. Jalur hukum yang ditempuh TI semoga bisa menguak ini semua agar kita mendapatkan pembelajaran dari sana. Semoga saja. Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 20:29 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Jim B Aditya Telisik yang pintar, mas Ilham. Menghakimi tanpa harus menjadi hakim hehehe... Memang pada akhirnya akan terpulang kepada kebesaran hati si penyair itu sendiri. Pesan yang saya tangkap adalah bahwa kerendahan hati justru akan memberi peluang agar hati dapat bertumbuh menjadi lebih besar. Bukan begitu?
Kemarin jam 20:35 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin
Itulah repotnya...jika Diknas dan pihak sekolah, kerap membiarkan para penjual buku paket berkeliaran di sekolah2.
Padahal, program MMAS dan SBSB sudah sangat baik memperkenalkan sastra di sekolah2 (pada guru dan siswa).
Kalok toh hendak mem...beli buku, daripada membeli buku paket (yg berijin Diknas atau tidak) yang isinya tak bisa dipertanggungjawabkan, kan masih lebih baik membeli langsung buku sastra/cerpen/puisi karangan para penyair/penulis. Selain lebih lengkap dan tentunya falid, guru dan siswa bisa belajar langsung seolah-olah telah "bertatap muka" dngan para penulisnya, kan?
Ini juga bisa memacu penerbitan buku sastra, dan tentunya produktifitas penulis/kepenulisan.Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 20:36 · SukaTidak Suka
o
Ilham Q Moehiddin
‎>>Mas Jim
Terima kasih mas. :)
Saya sepakat. Siapapun memang mesti rendah hati dan jujur dalam berkarya. Termasuk jujur dalam menggunakan karya, mereproduksinya, memperbanyaknya, dan menyebarluaskannya. Bukankah mutu karya sastra juga sangat... tergantung seberapa ihklas dan bertanggungjawabnya kita ketika memproduksinya? :)Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 20:39 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Syaiful Alim yang mengherankan kenapa dulu ketika sajak itu tersiar: TI diam!
Kemarin jam 20:46 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin ‎^_^
Hanya pak TI yang bisa menjawab pertanyaan mas Iful ini.
Kemarin jam 20:50 · SukaTidak Suka
o
Syaiful Alim ha ha aneh memang orang itu hiks
Kemarin jam 21:00 · SukaTidak Suka
o
Ilham Q Moehiddin ‎^_^
Kalok yg itu, saya no comment aja deh hihihihihi
Kemarin jam 21:05 · SukaTidak Suka
o
Bramantyo Prijosusilo
Terimakasih tag-nya. Sedikit tambahan, "Kerendahan Hati" tidak memasukkan kata-kata "There’s big work to do, and there’s lesser to do




...And the task you must do is the near" padahal dalam sajak aslinya, itu penting. Soal muskie dan bass saya kira pasti diketahui kalo gak bisa lkihat kamus, itu jenis ikan yang asing bagi kita makanya ditinggalkan, seperti pinus tidak sedekat beringin, maka diganti beringin.Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 21:07 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Syaiful Alim jujur, sejak mencuatnya tragedi itu, saya membaca ulang sejarah kepengarangan pak TI, hmmm...yah memang dia amat arogan dengan seseorang yang dianggap di luar jalurnya (bukan NYA)...
Kemarin jam 21:07 · SukaTidak Suka · 3 orangMemuat...
o
Bramantyo Prijosusilo dalam kamus bahasa Inggris, umumnya bass ada ... muskie lebih khas Amerika.
Kemarin jam 21:12 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin
‎>>
Mas Bram ^_^
Saya tidak mengikat dua larik itu pada telisik ini sebab kata2 di larik mudah sekali dipahami dan ditanskrip. Jadi untuk membuangnya atau memakainya mudah saja.
Muskie dan Bass memang tidak ada di kamus. Sebab dua itu adalah ...bahasa "prokem" orang Selatan dan Utara Amerika.
Lalu soal "pine" dan beringin itu, disebabkan karena adanya anggapan puisi bisa disadur. Padahal tidak. Itu yang tertulis dalam telisik ini.Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 21:13 · SukaTidak Suka
o
Bramantyo Prijosusilo Bass bukan slang US. Bass di UK juga ada. Apa maksudnya puisi tidak bisa disadur? Terjemahan Rendra atas Sophocles dan Shakespeare banyak sekali menyadur ... memberinginkan pinus, kalo di sini.
Kemarin jam 21:17 · SukaTidak Suka · 3 orangMemuat...
o
Bramantyo Prijosusilo izin share Boss
Kemarin jam 21:20 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin
‎^_^
Puisi memang tak bisa disadur dengan model diatas itu. Itu menurut pendapat Keraf dan sy akui. Rendra atas Sophocles dan Shakespeare adalah penyaduran yang benar. Anda tidak bisa menyadur "pinus" menjadi "beringin". Anda harus menuliska...n "pine" sebagai "pinus".
Bram...penurut pendapat saya dan sepengetahuan saya Bass dan Muskie tidak ada dalam kamus. Yang ada Muskiy.Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 21:24 · SukaTidak Suka
o
Ilham Q Moehiddin
Kita tidak pernah tahu kapan puisi ini diterjemahkan, jika bisa dibilang diterjemahkan. Sementara kamus terus diperbaharui.
Saya cuman merujuk satu kamus saja. Saya hendak merujuk pada Kamus Oxford tapi saya tidak jelas harus merujuk Oxford ...Kamus emisi kapan.
Bass dalam kamus adalah nomina untuk suara bas, alat musik bas, dan penyanyi bas.Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 21:28 · SukaTidak Suka
o
Adin Mbuh wkwkwk rame rame siiipppppp
Kemarin jam 21:30 · SukaTidak Suka
o
Bramantyo Prijosusilo Ini kamus Collins kupegang: Bass (rhymes with gas) noun 1. Various Australian freshwater and sea fish 2. a European spiny finned freshwater fish (Middle English). Muskie gak ada di sini. Tapi ini bukan kamus terlengkap. Kamus terlengkap seperti Oxford advanced kuduga berat ada-lah. Aku mengenal kata muskie, tidak terlalu aneh. Mungkin kalo baca Mark Twain akan menjumpai.
Kemarin jam 21:31 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Roberth William Maarthin Ini lebih yahut, lebih terhormat...dari pada teriak menuduh dan menuduh, lalu di balas ancam mengancam...ijin untuk kopas kang Ilham mo di posting di Group taman persajakan anak-anak muda FB...
Kemarin jam 21:34 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin
Sesuai penjelasan saya; "Lemah saya menduga..."
Ya, kalok Bram menemukan ada dikamus Collins maka baguslah. Mungkin itu kamus Collins emisi terbaru.
Sementara yang tidak jelas adalah; apakah ketika puisi ijin terjemahkan, si penerjemah menem...ukan kata itu atau tidak? ^_^Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 21:37 · SukaTidak Suka
o
Bramantyo Prijosusilo Oedipus Rex dalam Inggris, awalnya: Oedipus : Children, new blood of Cadmus' ancient line - what is the meaning of this supplication, these branches and garlands, incense filling the city, ... disadur : Anak-anakku, anak cucu Kadmus pendiri kota Thebes ini, kenapa kalian datang berbondong-bondong bagaikan demonstran, dengan tombak-tombak pusaka berbalut pita, menghadap duli kakiku? ... branches and garlands jadi tombak-tombak pusaka berbalut pita. Begini boleh to? Nyatanya bagus.
Kemarin jam 21:37 · SukaTidak Suka · 1 orangIlham Q Moehiddin menyukai ini.
o
Synd Dhanury hmmm semoga segera diketemukan fakta faktanya
Kemarin jam 21:39 · SukaTidak Suka
o
Hujan Tarigan dan hari ini, sejarah telah berkata pada kita semua. Anda semua berada di mana?
Kemarin jam 21:39 · SukaTidak Suka
o
Ilham Q Moehiddin ‎>>mas Robert
Silahkan. Sama seperti pesan saja pada Yonathan, mohon untuk menampilkannya lengkap dan rinci (termasuk bold/italicnya). Saya tak ingin telisik ini menjadi liar dan mengundang presepsi berbeda. Terima kasih ^_^
Kemarin jam 21:39 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Maya Kartika Bang ILO manteeppp...Bang..!!CSI SASTRA
Kemarin jam 21:42 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin Bram saya tak ingin mengulang2 ^_^
Baca saja telisik ini dan penjelasan mas Keraf yg saya kutip dari bukunya. Apapun premis dan cara yang dilakukan; meringkas, menyadur, ataupun mentranskrip sudah dijelaskan diatas. Ok, Bram :)
Kemarin jam 21:43 · SukaTidak Suka
o
Odi Shalahuddin Mahdami Minta ijin untuk share, Pak..
Kemarin jam 21:48 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Bramantyo Prijosusilo Saya kira penjelasan Keraf itu dapat ditawar. Yang tidak dapat ditawar adalah mencantumkan nama pencipta aslinya.
Kemarin jam 21:49 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Ilham Q Moehiddin
‎>>mas Shalahuddin
Silahkan. Sama seperti pesan saja pada mas Yonathan dan mas Robert, mohon untuk menampilkannya lengkap dan rinci (termasuk bold/italicnya). Saya tak ingin telisik ini menjadi liar dan mengundang presepsi berbeda. Terima ka...sih ^_^Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 21:57 · SukaTidak Suka
o
Odi Shalahuddin Mahdami Terima kasih, Pak... Akan diperhatikan... Saya akan share di blog kumpulan fiksi.... Sekalian ijin ambil fotonya.. heh.e.he.h.eh.e
Kemarin jam 21:59 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Maria Pakpahan Bass tuh ya ada sea bass.. enak ikannya:-)
Kemarin jam 22:02 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Bramantyo Prijosusilo
Bung Ilham, saya tidak mengenali makna poetic-license yang Anda maksud di dalam tulisan ini. Makna lazimnya yang saya ketahui dan juga ini buka Collins lagi, adalah (noun) Freedom from normal rules of language or truth, as in poetry ... Yan...g Anda maksud di sini kayaknya beda dengan "kebebasan untuk melanggar aturan berbahasa atau kebenaran, seperti dalam puisi" ... Poetic license itu seperti Chairil menggunakan kata "menggigir", "akanan", Rendra menggunakan kata "jekut" dsb. Yang anda maksud sepertinya "etika berpuisi"?Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 22:02 · SukaTidak Suka
o
Ilham Q Moehiddin hehehehe...enak tenan kalok itu, Maria :))
Kemarin jam 22:08 · SukaTidak Suka
o
Ilham Q Moehiddin
‎>> ^_^
Bram...sy tidak ingin ada perdebatan pada telisik saya. Ini saya tampilkan bukan untuk didebat. Saya telah mencoba membuat sedikit terang apa2 yang bisa membuat semua pihak segera tenang.
Sy terima baik ketidaksepakatan Anda pada beb...erapa bagian dari telisik ini. Jika ada yang kurang dari telisik literasi ini (yang menurut saya), maka lengkapilah dengan membuat telisik baru (yang menurut Anda). Tak perlu membuang energi Anda untuk mencoba membuat saya berdebat. Simpanlah energimu Bram untuk hal yg lain.
Saya sedang tak ingin saja. Lengkapilah ini.
Saat ini saya tidak sedang bersedia menerima premis apapun yang membuat saya harus melawan premis yang telah saya tuliskan sendiri.
Nah, Bram..begitu itulah itu fahamku, kawan ^_^Lihat Selengkapnya
Kemarin jam 22:17 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Odi Shalahuddin Mahdami Tulisan ini saya share di sini, Pak:
Kemarin jam 22:17 · SukaTidak Suka
o
Bramantyo Prijosusilo hehehe,di jawaban kamu itu artinya kamu menggunakan licentia poetica dalam penggunaan istilah licentia poetica, di dalam maknanya yang betul! Saya bukan mendebat ataupun melawan dikau ... bebas-bebas saja.
Kemarin jam 22:22 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
KembaRa Gelungan Hitam kesalahan bukan pembenaran mungkin bisa jadi pembetulan hihi,,,
23 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Katrin Bandel Permisi, tulisan Anda ini saya share di situs saya di bawah. Terimakasih sebelumnya. -Saut Situmorang http://boemipoetra.wordpress.com/2011/04/04/sejumlah-temuan-dalam-telisik-literasi-atas-polemik-plagiarisme-karya-malloch/
23 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Arieyoko Ksmb salutttt mas Ilham, untuk pelajaran smuanya....
23 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Goenawan Monoharto Marilah menjadi penyair yang baik,jujur, dan benar.
14 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Soni Farid Maulana bahasan yang indah. Semoga dengan itu semua masalah bisa selesai dengan indah pula.
14 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Bramantyo Prijosusilo Amin Son. Doa orang soleh seperti dirimu semoga dikabulkan Allah.
14 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Soni Farid Maulana Amin Ya Rabbal Alamin
14 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Michael Nugroho jelas plagiarisme kuwi...tenang bram...iki dudu donga tapi dukungan padamu, plagiat ya plagiat. (plagiat iki artine nek diterjemahake kan aktivis to?)
13 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Nurel Javissyarqi Pepatah untuk puisi Kerendahan Hati karya Taufik Ismail: Air Beriak Tanda Tak Dalam. Bolehkah aku kopi dalam catatan ini bapak Ilham? Sebelumnya terimakasih, matur nuwon sanget...
13 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Umi Lestari saya ijin share ya pak :)
12 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Heryus Saputro Terima kasih, Tiwi. Posting yang baik.
12 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Agung Hary btw. apa ada yang sudah menghubungi pembikin buku Terampil Berbahasa Indonesia u/ konfirmasi sumber tulisannya kah??
12 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Ilenk Rembulan wuah telisik ygdalam, biar kusampaikan pada kurcaciku, krn kemaren ketika ramai polemik, diapun bertanya padaku...apakah itu yg dinamakan penyair?...aku belum jawab...ini nanti akan menjadi pertimbangan mereka menilai seseorang terhdp karya orang lain...harus jujur atau bersembunyi dibalik kata-kata.....suwun mas Ilham
12 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Hera Hizboel telisik yang sangat cerdas, mendalam, dan bijak. kita tinggal menunggu Kerendahan Hati dalam wujudnya yang nyata... hehehe

trims sangat, Ilhaam... salam hangat.
11 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Goenawan Monoharto maaf, sebagai orang awam, saya mau bertanya ; setelah diskusi tentang telisik "cerdas" ini (dianggap), apa dampak bagi kesusasteraan Indonesia., bila kita tidak mendengar pledoi langsung dari penyair Taufik Ismail .
11 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sansulung John Sum http://www.detikhot.com/read/2011/04/01/211339/1606951/1059/kerendahan-hati-taufik-ismail-dibuat-oleh-orang-cerdas
11 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Ilham Q Moehiddin
‎>>>mas Goen
Saya malah tak berharap apa2 jika memang ada dampak bagi kesusasteraan Indonesia. Itu itikad. kalok dengan ini ada yg berubah, syukur, tapi jika pun tidak...ya tak mengapa. Toh entitas kesusasteraan Indonesia kadang punya solus...inya sendiri. Saya hanya mentelaah, menelisik saja. Dan silahkan diinterpretasikan sendiri2. Barangkali ini tidak ada apa2nya buat Anda. Toh, saya hanya membaginya pada kawan2 yang tertag dan yang mau menikmatinya saja. Jika sy mau ini berkembang luas, tentunya saya akan kirim ke koran. Sekiranya begitu.Lihat Selengkapnya
11 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat...
o
Muhammad Subhan
Salam. Saya dari Rumah Puisi Taufiq Ismail. Tuduhan atas dugaan plagiat tersebut sudah dijawab Pak TI melalui jawaban ini dan sudah dimuat sejumlah media nasional. Jawaban utuh pak TI sbb:

JAWABAN TAUFIQ ISMAIL
TERHADAP PERCAKAPAN DI FACEBOOK... ANTARA BRAMANTYO PRIJOSUSILO DENGAN PELUKIS HARDI DAN FADLI ZON, DLL,
31 MARET 2011

Inilah respons saya terhadap percakapan di atas, yang saya baca dari fail internet.

Puisi “Kerendahan Hati” disebutkan sebagai karya Taufiq Ismail, dituduhkan sebagai plagiat dari puisi “Be the Best of What You Are” karya Douglas Malloch.

Dalam tuduhan itu puisi “PK” tidak disebutkan dipublikasikan di mana dan kapan.

Karya puisi saya selama 55 tahun (1953-2008) telah diterbitkan lengkap (Ketua Panitya Fadli Zon), dengan judul Mengakar ke Bumi, Menggapai ke Langit. Jilid 1. Karya prosa lengkap dimuat dalam MKB-MBK Jilid 2 dan 3.

Kumpulan MKB-MBK Jilid 1 itu, tebal 1.076 halaman, memuat 522 puisi. Untuk informasi Bramantyo, puisi berjudul “Kerendahan Hati” itu, yang dituduhkan sebagai karya plagiat, tidak ada di sana. Itu bukan puisi karya saya.

Sekarang mengenai puisi “BBWYA” karya D. Malloch yang dituduhkan sebagai sumber plagiat.

Pada tahun 1992 saya selesai menerjemahkan puisi Amerika Serikat, di Universitas Iowa, yang kumpulannya saya beri judul Rerumputan Dedaunan, meliputi kurun masa 1850an-1980-an. Antologi ini belum terbit. Kumpulan itu tebalnya 693 halaman, memuat karya 160 penyair. Nama David Malloch tidak terdapat di dalamnya.

Dia bisa saja penyair bagus, tapi dari begitu banyak penyair Amerika 1850an-1980an, Malloch tidak termasuk ke dalam 160 penyair yang saya pilih. Kalau dia lulus seleksi saya, karyanya tentu saya masukkan dalam antologi terjemahan RD itu.

Pertanyaan berikutnya sekarang: kenapa dituduhkan itu sebagai sumber plagiat?

Dalam 12 tahun terakhir ini, frekuensi kegiatan saya yang mempertemukan saya dengan sastrawan muda, guru, mahasiswa dan siswa tinggi sekali, melalui program pelatihan MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra), SBSB (Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya), sanggar-sanggar sastra, komunitas ini-itu, dst. Dalam interaksi itu banyak karya sastra didiskusikan, termasuk terjemahan puisi. Mungkin sekali dalam salah satu kontak itu karya David Malloch dibicarakan, diterjemahkan peserta dan saya diminta memberi komentar. Itu yang paling mungkin. Dan jelas saya tidak membubuhkan nama saya untuk terjemahan itu, dan tidak mempublikasikannya. Arsipnya saja saya tidak menyimpannya. Kalau Malloch favorit saya, dia mestilah saya masukkan dalam antologi RD. Ini tidak.

Dalam hal ini tidak jelas siapa yang mencantum-cantumkan nama saya pada terjemahan puisi Malloch itu. Saya jadi teringat pada kasus lagu Tuhan, yang lirik dan lagunya digubah Sam Hardjakusumah, dinyanyikan Bimbo. Karena saya menulis sekitar 70 lebih lirik Bimbo, lirik lagu Tuhan itu sering sekali dikira dari saya. KCI malah pernah salah kirim honorarium lirik lagu itu kepada saya. Saya berulang kali menjelas-jelaskan ini kepada publik. Beda kasus saya dikelirukan dengan Sam Bimbo, adalah bahwa saya sampai mendapat honor yang mestinya dikirimkan kepada Sam, tapi dalam kasus saya dikelirukan dengan Malloch, saya dicaci-maki oleh facebookers yang salah tuduh. .

Saya tidak terima dinista sedemikian. Saya akan membawa ini ke ranah hukum, dengan mengadukan Bramantyo Prijosusilo ke Kepolisian RI, agar dia diproses sesuai dengan undang-undang yang berlaku dalam hal pencemaran nama baik.

Saya meminta bantuan pengacara sastrawan Suparwan Parikesit SH dan aktivis kampus Abrori SH, dengan saksi pelukis Hardi dan budayawan Fadli Zon.***

Taufiq Ismail, Rumah Puisi, 1 April, 2011.Lihat Selengkapnya
11 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 2 orangFaradina Izdhihary dan Ilham Q Moehiddin menyukai ini.
o
Goenawan Monoharto nah...
11 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Denny Prabowo Apakah sudah ada usaha menghubungi penyusun buku sekolah itu (Dewaki Kramadibrata, Dewi Indrawati, dan Didik Durianto)?
10 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Denny Prabowo
sebab hanya dengan penjelasan penyusun itu maka soalan ini bisa terselesaikan. saya tahu bagaimana buku pelajaran disusun. dan oleh sebab itu, mungkin saja si penyusun lalai. setidaknya ada pertanggungjawaban ilmiah dari penyusunnya.

jd coba... cari tahu di Pusat Perbukuan, mereka yg menilaikan setiap buku pelajaran yang akan dipakai untuk siswa. kantornya di gunung sahari, satu komplek dg kantor balai pustaka yg lama.Lihat Selengkapnya
10 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 2 orang2 orang menyukai ini.
o
Goenawan Monoharto saya bertanya sebagai orang awam : Apakah sang penyair TI sudah pernah membantah namanya dipasang pada karya tersebut ? Apakah sang penyair menolak royalti karya pada buku itu ?
8 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Ariel 'Aying Kemput' Dahrullah Sudah jelas, ini plagiat. Bukti sudah sangat meyakinkan.
4 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Bung Kelinci ini tulisan Mas Ilham Q atau Mas Ilham K ? :)
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat...
o
Tofik Widjaja ‎| terkenal mau, terhina tak sudilah yawwww..
2 jam yang lalu · SukaTidak Suka
o
Sansulung John Sum ‎@Goenawan Monoharto: Ada tiga hal di sini: yang MUNGKIN, yang MUSTAHIL, dan yang PASTI. 1. Yang MUNGKIN adalah TI tidak menerima royaltinya. 2. Yang MUSTAHIL adalah selama puluhan tahunj ini TI tidak mengetahui namanya tercantum pada Kerendahan Hati. 3. Yang PASTI adalah selama ini TI membiarkan hal itu. Mengapa TI tidak membantahnya sebelum ada pengungkapan karya asli Malloch? Dengan kata lain, mengap

Tidak ada komentar:

Posting Komentar