ORKES PUISI SAMPAK GUSURAN

Loading...

24 November 2015

Proses Kreatif Saya (Rendra) Sebagai Penyair (Bagian 1) Posted on November 3, 2014 by Pengembara Mimpi

Sebagai seorang penyair, tentu saja karya-karya Rendra tidak muncul begitu saja. Ada proses mendalam yang kemudian menjadi latar belakang terlahirnya untaian kata yang enak dibaca itu. Bagaimana proses itu terjadi? Dalam artikel yang ada di dalam bukuMempertimbangkan Tradisi ini, Rendra menjelaskan semuanya. Membaca ceritanya mungkin bisa menjadi inspirasi bagi anda dalam menjalani proses kreatif anda sendiri. Selamat menikmati.

***
Cara berpikir yang mencampuradukkan kenyataan alam dengan kenyataan kebudayaan adalah warisan dari sejarah lama bangsa kita, warisan dari jaman penjajahan dan jaman raja-raja.
Di jaman dulu kekuasaan raja dan sistem feodal yang menyertainya dianggap sama mutlaknya dengan hukum alam. Oleh karena itu, apabila orang menghadapi sistem kekuasaan seperti itu maka ia bersikap sebagaimana ia menghadapi nasib: harus nrimo dan pasrah.
Keadaan sosial, politik, dan ekonomi seakan-akan adalah buah dari kemauan nasib dan dewata. Rakyat tidak bisa ikut campur tangan apa-apa. Apalagi kalau mau mengubahnya! Dalam keadaan yang sangat buruk sekalipun, paling banter rakyat hanya bsa berdoa dan berharap. Persis seperti menghadapi dewata dengan kehendaknya. Atau mendemonstrasikan kemampuannya nrimo dan pasrah, sebagai sajen dan tumbal, untuk melunakkan hati sang dewata agar berkenan melimpahkan samodra kasih dan perlindungan.
Kesenian tradisional menggambarkan pergulatan politik antara ksatria dan raja-raja sebagai pergulatan moral atau pergulatan kekuatan wahyu masing-masing. Rakyat tidak pernah digambarkan sebagai suatu unsur yang menentukan di dalam kancah pergulatan semacam itu. Rakyat tidak bisa mengharapkan perubahan sistem. Paling jauh rakyat hanya bisa mengharapkan bahwa raja yang menang adalah raja yang baik hati, adil, dan bijaksana. Jadi keadaan sosial, politik, dan ekonomi yang baik hanya digantungkan pada kebaikan hati dan iklim temperamen sang raja, yang sama dengan berhala, yang sama dengan sang dewata, sang penguasa nasib.
Tetapi sekarang ini sudah jaman modern. Sejak revolusi kemerdekaan tahun 1945 dengan sadar kita memasuki jaman demokrasi. Kita melawan feodalisme dan rakyat mempunyai hak untuk ikut menentukan kebijaksanaan sosial, politik, dan ekonomi. Lembaga pendapat umum harus terbuka untuk kritik dan saran dari rakyat mengenai kebijaksanaan tersebut. Perhatian dan partisipasi rakyat dalam hal-hal tersebut adalah sah dan wajar. – Maka seniman sebagai anggota masyarakat, sebagai sebagian dari rakyat yang tidak ikut berkuasa, akan sah dan wajar pula kalau menyuarakan hasrat dan pendapat mengenai keadilan sosial, ekonomi, dan politik di dalam karyanya. Tidak bisa karyanya dianggap merosot hanya karena ia membicarakan masalah tersebut di dalam karyanya. – Ataukah ada perbedaan pendapat mengenai “bentuk seni” di dalam hal ini?
Adapun “bentuk seni” tidak pernah terlepas dari kaitan dengan “isi”-nya.
Dulu di Eropa, di jaman neoklasik, orang selalu memakai bentuk sanjak apabila menulis cerita atau sandiwara. Tetapi begitu Eropa menginjak era modern dan mengenal realisme orang lalu memakai bentuk prosa. Tentu saja orang-orang kolot, sisa neoklasikisme, menganggap seni yang realistis itu merosot nilainya. Tetapi ternyata bentuk seni kaum realis ini tahan ujian jaman karena ternyata memang memberi bentuk kepada kebutuhan jamannya. Jadi otentik dan wajar. Tidak artifisial.
Ternyata “bentuk seni” itu tidak mutlak dan dogmatis. Melainkan selalu dinamis dan berkembang.
Sebagai seniman saya mempunyai pengalaman melakoni dan menghayati perkembangan “bentuk seni” yang beragam.
Sebagai seniman saya mempunyai disiplin untuk tidak mengabdi pada “bentuk seni” tertentu. Melainkan saya harus menguasai daya kekuatan seni yang beragam yang mampu melayani kebutuhan dinamisme isi rohani dan pikiran saya.
Pada waktu remaja, rohani dan pikiran saya asyik melebur ke dalam alam. Hukum alam dan gejala-gejala alam menghisap minat saya. Sejajar dengan itu saya tertarik pada penghayatan alam dongeng, legenda, dan mitologi.
Waktu itu alam di luar dan alam di dalam diri saya, saya amati, saya peluk, saya setubuhi, saya hayati. Seluruh pancaindra saya, saya pertanyakan kembali, saya kenali kembali, saya segarkan dalam gairah pergaulan yang baru.
Dalam proses itu saya sampai pada “kesadaran alam”, yakni kesadaran di luar “kesadaran kebudayaan”, atau kesadaran di luar perbendaharaan kebudayaan sehari-hari, di luar akal sehat pada umumnya. Dengan kata lain saya sering berada dalam keadaan tranceatau stoned.
Bisa dimengerti bahwa pada waktu itu saya senang sekali menonton wayang kulit, mendalami suluk-suluk sang dalang, dan juga dekat dengan teknik dan bentuk tembang dolanan anak-anak Jawa yang penuh dengan imajinasi orang yang sedang stoned atau trance.
“Bentuk seni” Angkatan 45 yang liris-ekspresif atau realistis-ekspresif, yang waktu itu sedang dominan dan juga saya kagumi, tidak bisa saya pakai untuk mengungkapkan isi rohani dan pikiran saya yang sedangstoned. Karena itu saya pakai “bentuk seni” sebagaimana yang terlihat di dalam kumpulan sajak saya Ballad Orang-orang Tercinta, Nyanyian dari Jalanan, Sajak-sajak Duabelas Perak, dan Malam Stanza.
Di permulaan tahun-tahun Mahasiswa saya, masih dalam keadaan rohani dan pikiran yang stoned, saya jatuh cinta dan menikah. Jadi, saya menghayati pernikahan dan percintaan saya lebih sebagai peristiwa alam daripada peristiwa sosial. Muda dimengerti bahwa alun gelombang asmara dalam keadaan seperti membuat saya sangat peka pada melodi dan irama dalam alam.
Selain dari itu peristiwa pernikahan dan jatuh cinta yang mendorong saya untuk lebih menyadari peristiwa mati dan hidup dalam alam. Ya, keterbatasan, kefanaan, dan daya hidup menjadi pusat penghayatan saya. Dan sejajar dengan itu saya berusaha berdialog dengan yang Abadi. Keterbatasan dan kefanaan saya mencoba mengerti dan meraba yang Abadi. Di dalam proses itu saya merasakan anugerah daya hidup yang diberikan oleh yang Abadi kepada keterbatasan dan kefanaan saya. – Memang, setiap manusia diberi anugerah daya hidup dan daya mati. Dan daya hiduplah yang bisa memberi makna positif kepada keterbatasan dan kefanaan manusia.
Dalam periode itulah lahir sajak-sajak saya Kakawin Kawin danMasmur Mawar.
Pada waktu itu sebenarnya di Indonesia sedang terjadi pergolakan sosial, politik, dan ekonomi yang besar. Banyak seniman terlibat di dalam pergulatan dengan masalah-masalah itu dan mencerminkan hal tersebut di dalam karya mereka.
Saya juga tergugah oleh persoalan sosial, ekonomi, dan politik masa itu. Tetapi pengetahuan saya dalam ilmu politik, ilmu sosial, dan ilmu ekonomi waktu itu minim sekali. Lagi pula rohani dan pikiran saya masih asyik stoned. Karena itu jelas penghayatan saya terhadap masalah-masalah itu tidak bisa tuntas. Jadi, paling banter sentuhan saya dengan masalah-masalah tersebut hanya mendorong saya untuk melakukan instropeksi sebagai langkah pertama saya untuk melihat letak diri saya dalam peradaban sehari-hari. Hasilnya adalah Sajak-sajak Sepatu Tua.
Pada masa itu saya juga terdorong untuk bersikap rekatif terhadap pandangan-pandangan mutlak yang mengharuskan seni untuk terlibat di dalam masalah sosial-politik.
Saya menghargai kelayakan, tetapi saya selalu mempertanyakan keharusan yang dipaksakan. Daya hidup saya yang mendorong pada sikap semacam itu! Oleh karenanya sukar dibayangkan bahwa saya akan sudi untuk kterlibat di dalam masalah sosial-politik-ekonomi sebagaimana seniman-seniman Lekra yang didikte oleh keputusan-keputusan Sentral Partai. Meskipun begitu saya tidak pernah anti kepada seni yang “terlibat”. Bahkan, mungkin sebenarnya saya sudah terdorong untuk terlibat tetapi belum menguasai sarana-sarana penghayatannya.
Baru setelah tahun 1964 saya pergi ke Amerika Serikat dan tinggal di sana selama 3,5 tahun saya sempat berkenalan secara sungguh-sungguh dengan sarana-sarana penghayatan itu. Yakni ilmu sosial, ilmu politik, dan ilmu ekonomi. Bukan berarti saya lalu menjadi ahli dalam bidang-bidang itu, tetapi saya mulai memahami dasar ilmu tersebut.
Meskipun demikian, proses penghayatan itu ternyata tidak gampang. Dari alam stoned saya harus menyeberang ke alam common-sense.Seperti orang bertapa yang turun gunung, lalu tergagap dan termangu di dalam pasar.
Banyak pengalaman rohani dan pikiran saya di dalam persentuhan dengan persoalan sosial, politik, dan ekonomi itu. Tetapi saya belum bisa merumuskan pengalaman itu dengan baik di dalam alam kesadaran saya yang baru itu. Demikian pula belum bisa menemukan “bentuk kesenian”-nya yang cocok.
Di dalam ketegangan kreatif serupa itu, persoalan itu menyentuh rasa moral saya. Sebagai hasilnya, lahirlah Blues untuk Bonnie yang tidak merumuskan persoalan sosial-politik, tetapi persoalan moral dancommon-sense. Dari common-sense saya mulai sering melihat situasi absurd yang tidak ada di dalam alam stoned.
Baru setelah tahun 1971 saya mulai bisa melihat persoalan ketimpangan keadilan sosial-politik dan ekonomi secara struktural. Bersama dengan Bengkel Teater saya mulai membina diri saya dengan menyelenggarakan diskusi-diskusi, seminar-seminar kecil yang sangat terbatas, dokumentasi guntingan-guntingan koran, dan melakukan perjalanan studi ke desa-desa.
Ketegangan kreatif saya meningkat. Saya hidup dengan disiplin pribadi yang kuat. Saya tengah mencari “bentuk seni” yang tepat untuk isi pikiran dan rohani saya yang sedang terlibat dengan persoalan sosial-politik-ekonomi. Bentuk yang pernah saya pakai dulu tidak memenuhi kebutuhan saya sekarang.
Lalu terjadilah satu ironi. Dalam saat seperti itu saya melakukan meditasi lagi. Kembali saya masuk ke dalam gelombang pikiran “alpha”. Kembali saya stoned. Saya menulis sajak-sajak “Anuning Ning”. Sesudah itu saya mengalami ketenangan. Dan saya bunting. Beberapa saat kemudian lahirlah sajak-sajak saya yang terlibat dengan masalah sosial-politik dan ekonomi. Tidak gampang menuliskan sajak-sajak tersebut. Dari tahun 1971 sampai 1978 hanya beberapa sajak yang saya tulis, yakni sajak-sajak yang saya kumpulkan dalam Potret Pembangunan dalam Puisi. Waktu saya bacakan di muka umum, ternyata sambutan umum sangat baik. Berarti usaha artistik saya berhasil. Sebab jembatan seniman dengan khalayak ramai hanyalah kekuatan “bentuk seni”. Sebab meskipun isinya hebat, tetapi kalau “bentuk seni”-nya lemah, tidak akan menarik khalayak ramai. Ibarat orang gagap yang punya gagasan bagus tetapi tidak mampu menyampaikannya.
Khalayak ramai adalah alat penunjuk suksesnya “bentuk seni” yang lebih baik daripada kritikus. Sebab khalayak ramai selalu punya kenyataan kehidupan yang akan dipakai untuk mengukur relevansi “bentuk seni” maupun “isi seni”. Sedangkan kritikus hanya punya teori seni dan selera seni yang kadang-kadang aneh secara memalukan karena sudah jauh terlepas dari kenyataan kehidupan manusia secara lahir maupun secara mental.
Sejarah sudah menunjukan bagaimana kritikus salah menilai Chairil Anwar semasa hidupnya. Demikian pula di Eropa, William Shakespeare dan Moliere selama hidupnya selalu dicaci oleh para kritikus sebagai pencipta seni yang merosot, tetapi selalu mendapatkan penonton yang meluap. Dan ternyata sejarah memihak kepada Shakespeare dan Moliere; tidak kepada para kritikus dijamannya.
Mozart mati dalam kemiskinan bukan karena ia tidak punya penonton, tetapi karena sistem ekonomi yang memungkinkan penindasan kepada seniman. Ia selalu mendapat sambutan hangat dari khalayak ramai meskipun para kritisi di jamannya, yang dikuasai oleh selera musik Itali, selalu menekannya dengan ganas.
Tentu saja, ada juga kritikus-kritikus yang cukup peka kepada kenyataan kehidupan. Pengecualian seperti itu selalu ada. Tetapi secara umum kalau saya harus memilih, saya akan memilih reaksiaudience daripada kritikus.
Bukan maksud saya bahwa saya akan mengabdi kepada selera massa, tetapi saya akan membimbing selera massa. Karena massa selalu hanya mengagumi apa yang mereka belum punya, tetapi relevan dengan kenyataan kehidupan. Meskipun itu kenyataan hidup yang sebelumnya tidak pernah mereka sadari. Jadi dalam “bentuk seni” yang otentik-unik. Bukan yang eksentrik-unik.
(Waktu dibacakan di dalam acara Temu Sastra di TIM tanggal 6 Desember 1982, makalah ini baru selesai ditulis sampai di sini. Selanjutnya disambung secara lisan. Sekarang apa yang diucapkan secara lisan itu ditulis kembali dengan tambahan-tambahan susulan pikiran yang dianggap perlu).
Pengalaman mengajarkan bahwa penonton dan pembaca tidak bodoh, dan lebih peka daripada kritikus. Mereka lebih cepat menerima karya-karya saya yang tergolong “sulit” seperti – Teater Mini Kata, Kasidah Berzanzi, yang keduanya sangat eksperimental. Dan mereka juga lebih hangat dan spontan dalam menanggapi sajak-sajak saya yang eksperimental, seperti “Khotbah”, dan lain-lain. Tetapi mereka memang tidak akan bisa menerangkan kenapa mereka suka atau tidak suka dengan bahasa kritik seni. Bahasa mereka adalah bahasa kehidupan sehari-hari. Ya, saya menghargai penonton dan pembaca lebih tinggi daripada kritikus.
Kritikus adalah jembatan antara para penonton dan pembaca dengan seniman? Omong kosong! Kritikus adalah jembatan antara seniman dengan kemungkinan-kemungkinan spekulatif dalam dunia seni.
Jembatan yang benar-benar bisa diandalkan antara seniman dengan penonton atau pembacanya adalah kekuatan “bentuk seni”-nya. Seniman yang menghiba-hiba dan memohon agar kritikus suka menjadi jembatan bagi karyanya, sebenarnya kalau diteliti ternyata karyanya itu memang punya “bentuk seni” yang lemah, atau yang tidak otentik timbul dari penghayatan terhadap kehidupan, tetapi timbul dari prasangka-prasangka yang eksentrik dan dari tingkah genit yang dibikin-bikin. Jadi memang serba artifisial.
Ya, kekuatan “bentuk seni”-lah yang bisa menjadi jembatan antara seniman dan publiknya. Tetapi setelah publik menyeberangi jembatan itu, kekuatan yang bisa memuaskan publik dalam hal mutu adalah “isi seni” itu.
Dalam hal ini saya sependapat dengan ucapan penyair warga negara Inggris kelahiran Amerika, T.S Eliot, yang dikutip oleh Mochtar Lubis: “Kesusastraan diukur dengan kriteria estetis, sedang kebesaran karya sastra diukur dengan kriteria di luar estetika”.
Memang betul. Karya-karya sastra yang dianggap besar di dunia dan banyak dibaca oleh orang adalah karya-karya yang yangsetelah bisa menawan rasa-sen pembacanya (bukan kritikusnya), lalu masih bisa pula memberikan pemikiran-pemikiran penting yang menyangkutkebutuhan dasar manusia dalam hidupnya yang aktual ataupun yang spekulatif, yang rohani ataupun yang jasmani, yang filosofis ataupun yang sosial-politik-ekonomi, yang mistis ataupun yang logis, yang puitis ataupun yang prosais; pendeknya yang menyangkut kebutuhan dasar manusia sebagai totalitas. Dan yang saya maksud dengan yang “dasar” adalah tak terhindarkan secara nasib dan kebudayaan. – Karya sastra yang besar selalu mengandung gagasan yang menyangkut kebutuhan dasar tersebut. Gagasan yang disebut sebagai “gagasan besar” sebenarnya lebih tepat disebut “gagasan penting” karena sifatnya yang mendasar itu. Dan itulah pula sebabnya kenapa “gagasan besar” itu rumusannya sederhana, tidak di-kompleks-kan atau di-muluk-kan.
Lalu masih ada tempatkah untuk gagasan kecil dalam kesenian? Pertanyaan semacam ini sebetulnya tidak relevan. Tentu saja ada. Dalam kehidupan kita toh juga membutuhkan hiburan hati atauklangenan, melihat yang aneh-aneh atau yang manis-manis untuk selingan dan melewatkan waktu senggang kita. Kerajinan tangan pun ada gunanya dalam hidup ini. Meskipun semuanya itu tidak bersifat dasar. Karena manusia memang tidak hanya sekadar bersifat dasar. Tetapi untuk yang kecil dan yang besar masing-masing kan ada proporsi dan harganya yang sesuai.
Kalau yang dipersoalkan apakah ada faedahnya seniman menggarap peristiwa-peristiwa kecil, lain lagi relevansinya. Sebab gagasan besar sering justru suka meminjam peristiwa kecil. Tidak semua gagasan besar harus punya wadah peristiwa besar seperti dalam Arjuna Wiwaha, Dewa Ruci, Bhagawad Gita, Oidipus Rex, Hamlet, dan seterusnya. Anton Chekov justru sengaja memakai peristiwa yang kecil dan datar untuk mengutarakan gagasannya mengenai hubungan jalan hidup manusia yang konyol dan mancet dengan keterbatasan kebudayaan kota kecil di daerah yang jauh dari Ibu Kota dan masih bersifat borjuis-feodal. Contoh lain serupa itu masih banyak lagi.
Ironinya justru gagasan-gagasan remehlah yang sering meminjam peristiwa-peristiwa yang dramatis atau eksentrik. Ironis pula bahwa seniman yang “sok seni” hanya sampai pada “tipu seni” dan bukan “daya seni”.
Sekarang, kembali kepada persoalan kegelisahan saya waktu akan menulis sajak-sajak yang terlibat di dalam masalah sosial-politik-ekonomi. Jelas saya tidak bisa mengulang sukses sajak “Khotbah” atau “Nyanyian Angsa” yang banyak disenangi pembaca/penonton, diterjemahkan ke beberapa bahasa, dan dipuji oleh banyak kritikus.
Dasar keterlibatan kedua sajak itu adalah moral dan akal-sehat, sehingga lahir sifat yang menggugat pada konvensi. Sarana di luar estetika yang saya pakai adalah filsafat kemanusiaan dan pengalaman mistis. Di situ mungkin bagi saya untuk memberikan kontur misteriambiguity kepada sifat brutal dari sajak-sajak itu.
Tetapi untuk menulis sajak yang terlibat di dalam masalah sosial-ekonomi-politik, di luar sarana estetika, saya tidak bisa hanya memakai filsafat semata. Saya harus memakai terutama ilmu sosial-politik-ekonomi, termasuk juga riset akan data dan fakta. Jadi bukan sekadar sarana yang spekulatif tetapi sarana yang kongkret dan lugas. – Astaga! Maka sadarlah saya, bahwa saya akan kehilangan isi yang mempunyai nuansa misteri. Ya, saya harus mengikhlaskan diri untuk tidak memakai pesona misteri dan ambiguity yang menjadi kekuatan “Nyanyian Angsa” dan “Khotbah”. Kebutuhan isi rohani dan pikiran saya tidak mengizinkan saya untuk bimbang lagi. Kalau perlu saya harus ikhlas kehilangan penggemar-penggemar yang lama. Sebab dari dulu saya tidak mencari penggemar, meskipun saya gemar penggemar. Wawancara dan persetubuhan dengan hidup lebih utama bagi saya.
Makin lama saya makin mantap. Misteri dan ambiguity saya ganti dengan pengertian analisa struktural. Tanpa itu sajak sosial tidak punya relevansi politis. Dan inilah yang saya ingin dan maksudkan di dalam menulis sajak-sajak sosial-politis: relevansi politis. Bukan relevansi moral seperti dalam sajak-sajak saya “Khotbah” dan “Nyanyian Angsa”.
Dan isi gagasan saya tersebut di atas membutuhkan “bentuk seni” yang lain. Metafora surealistis dari “Khotbah” dan “Nyanyian Angsa” tidak bisa dipakai di sini secara pokok. Melainkan saya harus menggantinya dengan struktur sajak yang mengandung skema danmetafora yang mempunyai kekuatan grafis.
Saya bersyukur pada bakat artistik saya yang membuat saya dengan gampang bisa mengganti metafora yang simbolistis dan surealistis dengan metafora yang mempunyai plastisitas yang grafis itu. Rupa-rupanya persoalan estetika dalam menulis sajak sosial-politik-ekonomi bukanlah kesukaran praktis begitu ide “bentuk seni”-nya sudah saya temukan.
Tinggal selanjutnya menguji perkembangan kesenian saya itu dalam komunikasi yang nyata.
Di depan gelora massa mahasiswa di kampus-kampus UI, ITB, UNPAD, IPB, dan UII, dan juga di depan para penonton dari beragam lapangan kehidupan yang memenuhi Teater Terbuka di TIM dan Gedung Olahraga di Yogyakarta, ternyata kekuatan “bentuk seni” saya yang strukturnya skematis dan metaforanya plastis-grafis itu berhasil mencekam penonton. Sedangkan waktu sajak-sajak itu diterbitkan sebagai buku yang berjudul Potret Pembangunan dalam Puisi, dalam tempo sebentar sudah mencapai cetak ulang. Selanjutnya buku itu sudah pula diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan Inggris. Sebentar lagi akan muncul pula terjemahannya dalam bahasa Jepang.
Ya, faktor estetika sudah saya pecahkan. Saya tidak lagi pusing dengan pendapat para kritisi yang terkurung oleh alam pikiran yang meskipun sudah beragam tetapi tidak punya pengertian politis, dan oleh karenanya saya anggap tidak mengerti persoalan dalam hal ini.
Orang-orang Lekra dulu tidak bisa mencapai publik besar karena mereka tidak mau berpikir serius mengenai “bentuk seni” dari gagasan mereka.
Saya akhiri makalah pesanan DKJ ini di sini. Selesailah tugas pesanan saya untuk menguraikan proses kreatif saya sebagai penyair. Gambaran periode-periode proses kreatif itu tidak terlalu mutlak batasnya. Sebenarnya batasnya bukan dalam gambaran tahun atau masa (meskipun ada unsur tahun dan masa itu), tetapi dalam gambaran “momentum”.
O, ya baru-baru ini saya pergi ke Tana Toraja dan Tana Bugis. Saya mengalami cultural shock. Latar belakang kebudayaan Jawa Mataram Baru saya diguncang-guncang oleh dinamisme kebudayaan di sana dan saya merasa mengkeret. Saya merasa bahwa sajak-sajak yang sudah saya tulis perlu saya per…. Ah, saya sungguh belum siap bicara mengenai proses yang sekarang ini sedang terjadi dalam diri saya.

3 September 2013

(syair Attar) – Fariduddin Attar

Melalui kesukaran dan kehinaan jiwanya burung-burung itu pun susut

Lantas hapus (fana’), sedangkan tubuh mereka menjelma debu
Setelah dimurnikan maka mereka pun menerima hidup baru
Dari limpahan Cahaya Tuhan di hadirat-Nya
Sekali lagi mereka menjadi hamba-hamba- Nya dengan jiwa segar
Sekali lagi di jalan lain mereka binasa dalam ketakjuban
Perbuatan dan diam mereka di masa lalu telah dienyahkan
Dan disingkirkan dari lubuk hati serta dada mereka
Matahari Kehampiran bersinar terang dari diri mereka
Jiwa mereka diterangi semua oleh cahanya
Dalam pantulan wajah tiga puluh (si-murgh)
Mereka lantas menyaksikan wajah Simurgh yang sebenarnya
Apabila mereka memandang, yang tampak hanya Simurgh:
Tak diragukan Simurgh ialah tiga puluh ekor burung
Semua bingung penuh keheranan, tak tahu apa mereka ini atau itu.
Mereka memandang diri mereka tak lain adalah Simurgh.

20 Agustus 2012

SUBLIM

SEBUAH karya yang indah bisa mengundang kekaguman, kesenangan, atau kepuasan. Sebuah karya yang sublim bisa membangkitkan kedahsyatan, keharuan, bahkan kegelisahan. Adapun yang sesungguhnya terjadi, tentu, bisa tak sesederhana itu.

Sublim. Kata ini lazim disebut untuk menyatakan sifat agung, tinggi, atau halus, pada suatu karya seni. Mungkin orang menghubungkannya dengan proses fisika ”menyublim”, yakni mengubah zat padat menjadi uap dan memadatkannya lagi demi mencapai kadar kemurnian yang lebih tinggi. Atau orang menautkannya dengan istilah ”sublimasi” dalam psikologi, yang berarti mengubah dorongan naluri yang dianggap primitif menjadi tindakan yang dapat diterima atau dihargai oleh masyarakat yang beradab. Malahan, ada kalanya kata ”sublim” dipertukarkan dengan ”subtil” yang memang berarti halus, lembut, atau cerdik, bijaksana. Barangkali kemiripan sejumlah besar unsur kedua kata itu telah mengecoh sejumlah orang.

Namun, kata (dan terutama pengertian) ”sublim” ternyata punya riwayat yang memang jauh dari sederhana. Inilah juga gagasan yang diam-diam hampir tak pernah melepaskan cekamannya atas dunia penciptaan. Berbeda dengan ”yang indah” yang pernah digugat lantaran dianggap banal dan mengelabui serta memalingkan orang dari pemandangan dunia yang timpang ”yang sublim” tampaknya tak pernah kehilangan daya pesonanya.

Traktat kuno berjudul Peri Hypsous (On the Sublime, Tentang yang Sublim) konon ditulis seorang sarjana bernama Longinus dari abad ketiga Masehi, namun belakangan dinyatakan berasal dari dua abad sebelumnya dan entah siapa penulisnya adalah pembuka pembicaraan tentang ”yang sublim”. Dalam risalah itu, ”sublim” (berasal dari terjemahan Latin atas kata Yunani hypsos, ”ketinggian, keluhuran”, yang kemudian diteruskan pemakaiannya dalam pelbagai bahasa lain) mengacu pada pencapaian literer lewat metafora yang melampaui batas-batas bahasa umum. Kepiawaian itu terbangun dari sejumlah anasir: keagungan pikiran, kekuatan imajinasi, gaya bahasa yang tepat, pemilihan dan penyusunan kata secara efektif, dan akhirnya penataan keseluruhan karya secara organik.

Hingga berabad-abad, terutama sejak Renaissance, risalah itu menjadi salah satu panduan utama penciptaan dan penilaian karya sastra di Eropa. Pada tahun 1711 penyair Inggris Alexander Pope, dalam sajaknya An Essay on Criticism, angkat tabik kepada tokoh yang di masa itu masih dianggap sebagai penulis naskah klasik tersebut: ”Thee, bold Longinus!” Hampir setengah abad kemudian, pada tahun 1757, terbitlah A Philosophical Enquiry into the Origin of Our Ideas of the Sublime and Beautiful karya Edmund Burke.

Dalam traktat itu, Burke membedakan antara yang sublim dan yang indah. ”Yang indah” tentu saja enak dan mudah dinikmati, menimbulkan rasa suka, memperlihatkan kehalusan, kelembutan, keluwesan, kegemilangan, bahkan kemungilan. Sedangkan ”yang sublim”, sebaliknya, berhubungan dengan kepedihan, kekelaman, kesunyian, bahaya, kedalaman, kekosongan, tetapi juga kemegahan, kemahaluasan, ketakterhinggaan. Dibanding ”yang indah”, bagi Burke ”yang sublim” jauh lebih mampu membangkitkan emosi terkuat yang ada dalam diri seseorang. Pandangan ini kemudian berpengaruh besar terhadap estetika romantisisme dan kelak terus mengalami metamorfosisnya melalui ekspresionisme, simbolisme, Dada, surealisme, dan pelbagai aliran avant-garde.

Tak lama setelah Burke, pada tahun 1764 Immanuel Kant menerbitkan risalahnya tentang ”yang indah dan yang sublim”. Ia menelaah kedua gejala itu secara terperinci, meski kadang agak berlebihan, seperti ketika ia memilah watak bangsa-bangsa ke dalam dua kelompok besar: sebagian cenderung kepada ”yang indah”, sebagian lain condong kepada ”yang sublim”. Yang jelas, bahkan lama setelah Kant, ihwal ”yang sublim” rupanya tak kunjung sirna. Dekonstruksi, misalnya, dengan ”gerak bebas penanda” yang menggulirkan kemungkinan tafsir yang tiada habisnya, juga mengilaskan ”yang sublim” di setiap momennya momen yang tak tertentu dan sekaligus menawarkan yang tak terhingga itu.

Sumber: Minggu, 05 Februari 2006

6 Maret 2012

Jalan mana yang akan kau pilih

Begitu mengagumkan semangat para pembela kebudayaan
Begitu mengagumkannya semangat kemanusiaan mereka yg begitu bergairah membela ilmu pengetahuan

Membayangkan kematian yg indah para pejalan seni
Membayangkan kematian yg indah para pejalan pedang
Membayangkan kematian yg indah para pejalan akal
Membayangkan kematian yg indah para pejalan agama

Yang lebih mengagumkan lagi
Membayangkan mereka yg telah mati di jalan tuhannya
Tuhan segala makhluk
Tuhan pencipta,pemberi rizqi
Penggerak,sekaligus pengendali

Jalan batin
jalan para wali
Jalan batin
Jalan para nabi

Juned Topan
06 maret 20012

1 Maret 2012

Pergulatan Iman Kang Marto

Oleh Lik Kopir

Melalui Koran Stanplat ini aku ingin bercerita kepadamu, tentang kehidupan Kang Marto, -seorang suami dari Sutinem, beranak delapan di umurnya yang ke 40 tahun. Keluarga Marto menjalani kehidupannya di sebuah dusun terpencil di Kecamatan Tretep. Suatu ketika Marto bertutur kepadaku tentang kehidupannya. Aku tuangkan cerita Marto dalam tulisan berikut ini:

Ia tak paham benar dengan kehidupan ini. Segalanya tiba-tiba ada. Bagi Marto, pengertian hidup adalah menjalani rutinitas. Makan-minum, tidur, kawin, silaturahmi, kerja bakti dan kerja mencari nafkah,-sebagai kewajiban panggilan hidup manusia. Marto hanya tahu ruang lingkup dunia yang sangat terbatas. Tretep, Parakan, Jumo, Ngadirejo, Temanggung. Sepanjang hidupnya ia tak pernah merantau. Paling jauh Marto pergi ke Magelang, Kendal dan Wonosobo. Tapi imanjinasi tentang kehidupan bak cakrawala, luas menghampar tak bertepi; penuh teka-teki dan misteri.

Kesadaran hidupnya dibangun oleh etos dan moralitas Jawa, lebih tepatnya tradisi Temanggungan. Marto percaya Tuhan, percaya kebenaran agama dan sedikit banyak percaya mitos dan klenik. Selera dan cita rasa seninya tertata oleh imajinasi rakyat jelata. Karena itu Marto lebih menyukai kuda lumping ketimbang tarian kraton,-keseniannya para priyayi feodal yang penuh aturan dan basa-basi. Baginya, kuda lumping adalah cermin kehidupan rakyat, liberalisme (kebebasan) gaya ndeso; makan beling, goyang liar sampai njengking. Kebebasan ekspresi tubuh adalah ciri khas tarian ini.

Bagi Marto, kuda lumping juga berarti desah nafas kehidupannya; kehidupan orang jelata yang rindu akan kesetaraan dan kebebasan. Kalau pentas kesenian lain butuh panggung, pentas kuda lumping hanya butuh tanah lapang. Penunggang kuda, pemusik maupun penonton duduk berdiri di alam bebas tanpa hirarki. Di sinilah kesetaraan sesama umat manusia menyatu dalam suasana suka cita.

Kesurupan adalah ekstase yang paling menganggumkan. Zaenal, seorang pemain kuda lumping asal Kandangan mengatakan; “rasane durung njaran nek durung nyurubi.” Seorang budayawan pernah berkata; “kesurupan adalah manifestasi paling liar sekaligus paling khusuk dari perjalanan liar kehidupan manusia.”

Asal tahu saja, kalau sudah kesurupan yang tak mungkin terjadi bisa terjadi. Mau bukti? Tiada mungkin dalam kondisi normal orang sanggup nguntal beling tanpa rasa sakit. Saat normal, tiada mungkin seseorang manjat pohon kelapa gaya munyuk berlari. Hanya melalui kesurupanlah semua itu terjadi.

Kesurupan sejenis ekstase, atau jazb (baca;jadzab)nya kaum sufi. Sebuah istilah dalam mistisisme untuk “ketertarikan terhadap Tuhan” yang dialami jiwa-jiwa tertentu. Secara khusus menunjukkan keadaan jiwa yang tidak normal bagi sang Majzub, pelakunya. Kalaujadzabnya para sufi bertujuan mencari kesejatian hubungan manusia dengan Tuhannya, maka ekstase para sufi “mahzab jaran kepang” tujuannya mencari kesejatian dalam hubungan sosial. Beda arahnya, tapi keduanya tetap memiliki bobot spritualitas.

Namanya Marto. Cukuplah kau panggil dia Marto! Jangan panggil dia Totok, Togog, apalagi Togel! Sebab Marto akan marah dan mengancam; “Nek de’e nyeluk aku nggo jeneng iku, tak pathak watu ndasmu!” Marto juga berpesan kepadaku; “hargailah diriku dengan nama pemberian orantuaku itu. Karena sebuah nama adalah sebuah identitas kehidupan pribadi seseorang. Gusti Allah pun senang dihargai dengan nama indah. Buktinya, Tuhan menyuruh hamba-Nya selalu berseru “dengan menyebut namaMU.”

Marto percaya bahwa Tuhan ada. Tapi kadang ia merasa aneh. Konon Tuhan maha baik dan bijak, tapi kenapa orang fakir miskin selalu tersia-siakan hidupnya? Kenapa banyak orang beramal saleh hidupnya tetap susah? Kenapa para pejabat-pejabat korup, gemar nyolong duit rakyat, nipu kanan, ngibul kiri selalu hidup makmur nan mulia?

Orang miskin seperti Marto untuk sekedar makan pun susahnya bukan kepalang. Akibatnya, anak-anak Marto kurang gizi, baju kotor tak pernah ganti. Pun demikian, Marto tak pernah mencuri. Ia nafkahi istri anaknya dari hasil jerih paya nguli bangunan, angkut kayu atau buruh macul.”Yang penting halal,”katanya.

Suatu malam ia khusuk berdoa, diiringi rengek tangis anak-anaknya yang tidurnya tak pernah nyenyak karena gigitan nyamuk;

“Tuhan, salah apa aku? kenapa rejeki berlimpah hanya Kau bagikan kepada orang-orang yang berada di lingkar kekuasaan? Selalu saja orang-orang itu bilang; kemiskinan adalah takdir. Benarkah Tuhanku? Kenapa Kau tidak takdirkan diriku sebagai orang kaya? Ah, Tuhanku. Aku tak percaya itu takdirmu, sebab Engkau telah memberikan amanat kepada para khalifahMu, para wakilMu yang duduk di kursi-kursi kekuasaan itu. Aku heran ya Tuhanku, para ulama sudah tak lagi menyerukan amar ma’ruf nahy munkar. Mereka tak berani melawan kekuasaan yang korup dan menindas rakyat. Mereka malah bangga menjadi corong kekuasaan.

Duh Gusti Allah. Empatpuluh tahun aku bekerja dan berdoa, tapi kehidupanku tak kunjung membaik. Sedangkan mereka para politisi itu, hanya modal bacot saat musim Pemilu kini hidup bergelimang harta! Saat kampanye mereka bilang akan membela kami. Sebulan kemudian campakkan kami. Saat pemilu mereka rajin ke desa-desa, kini mereka lebih suka ke kota-kota berbelanja dan berpesta. Aku mohon ya Tuhanku, berilah kutukan kepada para pejabat laknat itu. Oh, Tuhanku….”

Malam semakin larut. Doa-doa berhamburan menyebar ke seluruh penjuru mata angin. Kentong subuh membuka mata Marto. Cerah pagi benar-benar menggairahkan Marto untuk bersiul dan menyanyi. Dan Marto pun pandai memilih lagu yang cocok dipersembahkan untuk para pejabat di negeri ini;

Menthok..menthok/tak kandani/mung rupamu, angisin-isi/mbok yo ojo ngetok/ono kandang wae/enak-enak ngorok, ora nyambut gawe/menthok…menthok.

(naskah ini pernah di muat di rubrik Asal Usil; media cetak Stanplat, edisi II Juli 2006)

7 Februari 2012

Penyair & Ayam (cerpen Saut Situmorang)

Kerajaan Cikeas gempar! Tiba-tiba saja muncul sajak-sajak subversif yang memfitnah ayam piaraan raja! Sajak-sajak itu ditulis jadi graffiti di seluruh tembok kotaraja termasuk tembok Istana sendiri!

Densus Anti Teroris pun segera dikerahkan untuk mencari & membunuh penyair sajak-sajak teror tersebut. Di seluruh media Cikeas, penulis misterius tersebut digambarkan sebagai "teroris Public Enemy No. 1".

Bertahun-tahun Densus memburunya tapi penyair tersebut selalu berhasil tak ditemukan, selalu berhasil melarikan diri.

Membuat namanya "Penyair Teroris" jadi keramat & suci, terutama bagi gadis-gadis ABG yang mengidolakannya. Namanya dibisikkan dengan takzim tapi mesra. Jadi berhala pubertas. Termasuk jadi tato di buah dada perawan mereka!

Suatu hari Densus akhirnya menemukan tempat persembunyiannya tapi si penyair ternyata sudah mati! Tak ada bekas-bekas kekerasan di tubuhnya.

Tempat persembunyiannya tersebut ternyata di Istana sendiri! Tepatnya di bagian belakang Istana. Sang Penyair Subversif Musuh Negara No. 1 itu ternyata tukang pelihara ayam Istana!

Berdasarkan catatan-harian yang ditemukan Densus di TKP, penyair yang berambut gimbal itu rupanya marah besar pada ayam-ayam Istana yang selalu mematuki gimbalnya tiap kali dia memberi mereka makan! Dia merasa tidak dihargai sama sekali! Dia jadi sangat benci pada ayam-ayam feodal tersebut!

Maka diputuskannya menulis sajak-sajak anti Fascisme Ayam Istana! Kemarahannya makin memuncak karena dia sendiri terpaksa harus makan telor ayam-ayam tersebut tiap paginya sebagai sarapannya! Karena gajinya dibayar pakek telor ayam-ayam keparat itu! Membuat perutnya mual, kepalanya pening berputar, gimbalnya makin rusak!

Karena sudah tak tahan lagi dengan kondisi hidupnya yang begitu tak puitis, plus diburu-buru Densus setiap hari, membuatnya akhirnya frustrasi. Putus asa.

Maka diputuskannya suatu hari untuk membuat "telor dadar pakek kecap" dari seluruh jumlah telor ayam yang ada di Istana. Lalu dimakannya semuanya!

Akhirnya dia mati "Overdosis telor, kecap & kemarahan", menurut laporan media Cikeas. Terkapar dengan sisa telor ayam raksasa di sampingnya.

Kematiannya terbongkar setelah ayam-ayam ribut kelaparan karena belum dikasih makan seharian. Malah ada yang sampai mati kelaparan. Membuat Istana kalang kabut & para pengawal kalut takut lalu mencari penyebab semuanya itu.

Di kamarnya yang sempit & bau telor ayam di samping kiri kandang ayam Istana, Densus menemukan tumpukan sajak-sajak anti ayam Istana yang ditulisnya. Dan kaleng-kaleng cat Pylox yang sudah kosong.

(Jogja, 1 Juni 2011)

6 Februari 2012

AANJING, KUCING DAN TIKUS

oleh Suko Rahadi pada 6 Februari 2012 pukul 16:11



Anjing (1)


waktu kecil dulu, saya pernah punya seekor anjing. uberi nama anjing itu pleki. Dia, anjingku itu, senang sekali kuberi nama itu. setiap kali kupanggil namanya, "plekiplekipleki...." maka dia akan serta merta berlari mendekat sembari menjulurjulurkan lidah, mengopatngapitkan ekor dan badannya bergoyang-goyang tiada henti. lalu jiika aku membawa sepotong roti, misalnya, maka dia akan segera berdiri dengan tumpuan dua kaki belakang sedang kaki depannya akan mengaisngais berkehendak untuk dapat meraih roti yang ada di tanganku. lidahnya tetap terjulur, mulut menganga mengharapkan roti itu aku lempar masuk ke dalam mulutnya. Kawan, kalian tentu bisa membayangkan kejadian yang kuceritakan itu.

si pleki, jika kawan tahu, ah, cantik sekali anjing kesayanganku itu. tubuhnya tak kecil, namun juga tak terlalu besar dan tinggi. yang lebih menarik lagi adalah bulunya. Bulu si pleki, baiklah aku ceritakan kepada kawan, begitu lebat dan indah sekali. bulu itu menutup semua bagian tubuhnya, bahkan di bagian kepala juga sangat lebat dan panjang. bulu si pleki itu halus, lurus, dan mengkilat. warnanya? tentu kawan juga ingin tahu apa warna bulu anjingku itu. namun baiklah, aku tak akan memberitahukan apa warna bulunya. silahkan saja diwarnai sekehendak hati kawan semua. boleh putih, abu-abu, merah, coklat, belang hitamputih, atau warna apa saja terserah kehendak dan selera kawan. yang jelas, saya ulangi lagi, bulu si pleki itu lebat, lurus, halus, bersih dan tersisir rapi.

hampir tiap minggu pagi si pleki kuajak lari pagi. bukan seperti merka yang di kota itu, karena si pleki tak kuikat lehernya dengan tali rantai. jika pun ada kalung di lehernya, itu tempat untuk menggantungkan klinthingan agar berbunyi gemerincing jika sedang berlari.

menuju sungai. ya, tiap minggu pagi si pleki ikut berlarilari pergi ke sungai, mengikutiku dan menemaniku memandikan sapi di kali wetan. Kali wetan itu, sesuai dengan sebutannya, terletak di sebelah timur dusun tempat tinggalku. itu untuk memudahkan dalam penyebutan saja. sebenarnya sungai itu adalah sungai/kali winongo kecil, anak sungai kali winongo. Jika kawan pernah ke jokjakarta, maka perhatikanlah bahwa sepanjang jalan samas, selepas jembatan sungai kali winongo ke arah selatan akan ada aliran sungai yang mengarah lurus ke pantai samas. ya, sungai dan jalan itu berdampingan.

namun, perlu aku ceritakan kepada kalian, bahwa kali wetan yang dahulu sudah jauh berbeda dengan yang sekarang. tentu saja itu akibat perkembangan jaman.

Jaman dulu, sebagaimana di tempat yang lainnya, sepanjang bibir kali senantiasa rungkut ditumbuhi berbagai pepohonan. ada kayu jati, ada pohon kluwih, ada banyak tanaman jarak, pohon ketapang kebo juga mudah kita temui. rumpun bambu? ya, rumpun bambu juga ada. namun yang paling banyak dan menarik bagiku adalah pohon pisang. pohon pisang ini tumbuh secara liar, tak terurus dan tanpa kontrol. beranak pinak sesuka hatinya. jikalau tak punya sayur, maka dengan mudah kita bisa mencari tanaman kangkung liar di sepanjang bantaran sungai. tapi hatihati, jangan sampai keliru memetik kangkung londo. kangkung jenis ini sama enaknya, namun kawan akan mencret dibuatnya jika berani memakan barang selembar daun. pohon trembesi juga ada.

lalu apa menariknya sehingga aku harus bercerita tentang pepohonan itu? baiklah. pohon itu akan melindungi sesiapapun dari pandangan orang lewat saat dia mandi di kali. he.he.

mandi di kali? ya, itu asyik sekali. bisa dikata bahkan, setiap bayi yang lahir di kampungku langsung bisa berenang. namun itu tentu berlebihan. yang jelas, karena dekat sungai, sejak kecil anak-anak di kampungku sudah bisa berenang.

si pleki, anjingku yang kuceritakan tadi, juga mahir berenang. dia senang sekali saat ikut ke sungai. tubuhnya akan mengapung di sungai, gelagepan berenang di ceruk yang agak dalam lalu minggir dan mengibasngibaskan bulu indahnya. di saat itulah aku suka berjalan sepanjang sugai mencari udang untuk si pleki. udang pun ada bermacam warna dan jenis, waktu itu. entah sekarang ini. udang adalah jenis ikan yang paling mudah ditangkap. pun rasanya paling gurih jika dimasak. aku suka mengambil telor yang ada di kali udang itu, lalu aku usap-usapkan ke sekujur tubuh si pleki. mungkin karena itulah bulunya tumbuh subur sekali.

kirakira sejarak 1 km ke utara dari tempatku memandikan sapi, ada sebuah warung yang sekalipun tak pernah aku masuki. warug sengsu. kalian tahu, apa itu sengsu?

~bersambung kukira ya.

AANJING, KUCING DAN TIKUS

Anjing (1)


waktu kecil dulu, saya pernah punya seekor anjing. uberi nama anjing itu pleki. Dia, anjingku itu, senang sekali kuberi nama itu. setiap kali kupanggil namanya, "plekiplekipleki...." maka dia akan serta merta berlari mendekat sembari menjulurjulurkan lidah, mengopatngapitkan ekor dan badannya bergoyang-goyang tiada henti. lalu jiika aku membawa sepotong roti, misalnya, maka dia akan segera berdiri dengan tumpuan dua kaki belakang sedang kaki depannya akan mengaisngais berkehendak untuk dapat meraih roti yang ada di tanganku. lidahnya tetap terjulur, mulut menganga mengharapkan roti itu aku lempar masuk ke dalam mulutnya. Kawan, kalian tentu bisa membayangkan kejadian yang kuceritakan itu.

si pleki, jika kawan tahu, ah, cantik sekali anjing kesayanganku itu. tubuhnya tak kecil, namun juga tak terlalu besar dan tinggi. yang lebih menarik lagi adalah bulunya. Bulu si pleki, baiklah aku ceritakan kepada kawan, begitu lebat dan indah sekali. bulu itu menutup semua bagian tubuhnya, bahkan di bagian kepala juga sangat lebat dan panjang. bulu si pleki itu halus, lurus, dan mengkilat. warnanya? tentu kawan juga ingin tahu apa warna bulu anjingku itu. namun baiklah, aku tak akan memberitahukan apa warna bulunya. silahkan saja diwarnai sekehendak hati kawan semua. boleh putih, abu-abu, merah, coklat, belang hitamputih, atau warna apa saja terserah kehendak dan selera kawan. yang jelas, saya ulangi lagi, bulu si pleki itu lebat, lurus, halus, bersih dan tersisir rapi.

hampir tiap minggu pagi si pleki kuajak lari pagi. bukan seperti merka yang di kota itu, karena si pleki tak kuikat lehernya dengan tali rantai. jika pun ada kalung di lehernya, itu tempat untuk menggantungkan klinthingan agar berbunyi gemerincing jika sedang berlari.

menuju sungai. ya, tiap minggu pagi si pleki ikut berlarilari pergi ke sungai, mengikutiku dan menemaniku memandikan sapi di kali wetan. Kali wetan itu, sesuai dengan sebutannya, terletak di sebelah timur dusun tempat tinggalku. itu untuk memudahkan dalam penyebutan saja. sebenarnya sungai itu adalah sungai/kali winongo kecil, anak sungai kali winongo. Jika kawan pernah ke jokjakarta, maka perhatikanlah bahwa sepanjang jalan samas, selepas jembatan sungai kali winongo ke arah selatan akan ada aliran sungai yang mengarah lurus ke pantai samas. ya, sungai dan jalan itu berdampingan.

namun, perlu aku ceritakan kepada kalian, bahwa kali wetan yang dahulu sudah jauh berbeda dengan yang sekarang. tentu saja itu akibat perkembangan jaman.

Jaman dulu, sebagaimana di tempat yang lainnya, sepanjang bibir kali senantiasa rungkut ditumbuhi berbagai pepohonan. ada kayu jati, ada pohon kluwih, ada banyak tanaman jarak, pohon ketapang kebo juga mudah kita temui. rumpun bambu? ya, rumpun bambu juga ada. namun yang paling banyak dan menarik bagiku adalah pohon pisang. pohon pisang ini tumbuh secara liar, tak terurus dan tanpa kontrol. beranak pinak sesuka hatinya. jikalau tak punya sayur, maka dengan mudah kita bisa mencari tanaman kangkung liar di sepanjang bantaran sungai. tapi hatihati, jangan sampai keliru memetik kangkung londo. kangkung jenis ini sama enaknya, namun kawan akan mencret dibuatnya jika berani memakan barang selembar daun. pohon trembesi juga ada.

lalu apa menariknya sehingga aku harus bercerita tentang pepohonan itu? baiklah. pohon itu akan melindungi sesiapapun dari pandangan orang lewat saat dia mandi di kali. he.he.

mandi di kali? ya, itu asyik sekali. bisa dikata bahkan, setiap bayi yang lahir di kampungku langsung bisa berenang. namun itu tentu berlebihan. yang jelas, karena dekat sungai, sejak kecil anak-anak di kampungku sudah bisa berenang.

si pleki, anjingku yang kuceritakan tadi, juga mahir berenang. dia senang sekali saat ikut ke sungai. tubuhnya akan mengapung di sungai, gelagepan berenang di ceruk yang agak dalam lalu minggir dan mengibasngibaskan bulu indahnya. di saat itulah aku suka berjalan sepanjang sugai mencari udang untuk si pleki. udang pun ada bermacam warna dan jenis, waktu itu. entah sekarang ini. udang adalah jenis ikan yang paling mudah ditangkap. pun rasanya paling gurih jika dimasak. aku suka mengambil telor yang ada di kali udang itu, lalu aku usap-usapkan ke sekujur tubuh si pleki. mungkin karena itulah bulunya tumbuh subur sekali.

kirakira sejarak 1 km ke utara dari tempatku memandikan sapi, ada sebuah warung yang sekalipun tak pernah aku masuki. warug sengsu. kalian tahu, apa itu sengsu?

~bersambung kukira ya.

1 Februari 2012

Komposisi ( Bagian Pertama)

Bahasa terdiri dari dua aspek: Bentuk dan Aspek Makna. Aspek bentuk terdiri dari Unsur Segmental dan Unsur Suprasegmental. Unsur Segmental adalah unsur bahasa yang dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang lebih kecil: fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat dan wacana.

Unsur Supra-segmental adalah unsur bahasa yang kehadirannya tergantung dari kehadiran unsur segmental seperti: tekanan keras, tekanan tinggi (nada) dan tekanan panjang, serta intonasi.

Unsur segmental dapat dikatakan sudah cukup berhasil digambarkan di atas sehelasi kertas, walau masih ada kekurangan. Unsur itu beserta gerak-gerik dan airmuka belum dapat dilukiskan sempurna. Unsur-unsur tersebut biasanya dinyatakan secara tertulis dengan abjad, persukuan, penulisan kata dan sebagainya. Sebaliknya unsur-unsur supra-segmental biasanya dinyatakan secara tertulis melalui tanda-tanda baca atau pungtuasi.

Pungtuasi dibuat berdasarkan dua hal utama yang saling melengkapi:
1. Didasarkan pada unsur supra-segmental
2. Didasarkan pada hubungan sintaksis, yakni unsur-unsur sintaksis yang erat hubungannya dengan tanda-tanda baca dan unsur-unsur sintaksis yang tidak erat hubungannya harus dipisahkan dengan tanda-tanda baca.

Misalnya dalam kalimat berikut terdapat tanda-tanda baca yang memenuhi kedua syarat tersebut: Coba katakan, Saudara, siapa namamu? Dalam ujaran yang wajar antara "katakan" dan "Saudara" tidak terdapat perhentian, sebab itu seharusnya koma dihilangkan. Namun karena kata "Saudara" merupakan unsur yang tidak ada hubungan dengan kata "katakan" maka harus ditempatkan koma di sana.

Antara kata "Saudara" dan "siapa" ditempatkan koma karena di situ diberikan perhentian sebentar dengan intonasi menaik. Sebaliknya pada akhir kalimat diberikan tanda tanya karena intonasinya adalah intonasi tanya.

Sering terjadi bahwa unsur-unsur kalimat yang merupakan kesatuan ditampilkan dalam urutan yang terpisah, yaitu diinterupsi oleh unsur-unsur yang kurang esensil sifatnya. Dalam hal ini harus dipergunakan tanda-tanda baca, agar hubungan itu tidak menjadi kabur. Misalnya kita tidak boleh memisahkan unsur-unsur yang merupakan satu kesatuan seperti subjek dan predikat, atau sebuah kata dengan keterangan yang erat. Sebaliknya kit harus memisahkan anak-anak kalimat yang independen dalam sebuah kalimat majemuk, memisahkan subjek dari unsur-unsur pengantar predikat yang mendahului subjek, memisahkan unsur-unsur yang setara, dan lain sebagainya.

Macam-macam Pungtuasi:
Yang lazim dipergunakan dewasa ini didasarkan atas nada dan lagu (suprasegmental), dan sebagian didasarkan atas relasi gramatikal, frasa dan inter-relasi antar bagian kalimat (hubungan sintaksis). Tanda-tanda tersebut adalah:
a. Titik, atau perhentian akhir biasanya dilambangkan dengan (.). Tanda ini lazim dipakai untuk: Menyatakan akhir dari sebuah tutur atau kalimat. Bila kalimat tanya dan perintah atau seru mengandung pengertian akhir, yaitu berakhirnya suatu tutur, maka tanda tersebut digunakan sebagai sebuah tanda titik.

b. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat dan singkatan kata atau ungkapan yang sudah lazim. Pada singkatan yang terdiri dari tiga hurug atau lebih hanya dipakai satu tanda titik:
Dr. (Doktor), dr. (Dokter), Ir. (Insinyur) M.Sc. (Master of Science), Drs. (Doktorandus), dkk. (dan kawan-kawan), d.a. (dengan alamat).
Semua singkatan kata yang mempergunakan inisial atau akronim tidak mempergunakan titik: MPR, ABRI, Hankam, Ampera, dll.

c. Tanda titik dipergunakan untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang menunjukkan jumlah; juga dipakai untuk memisahkan angka jam, menit dan detik: 1.000, 57.987. pukul 5.45.42
Bila bilangan itu tidak menunjukkan jumlah maka tanda titik itu tidak dipergunakan: Pada halaman 5675 terdapat kata-kata berikut. Ia lahir pada tahun 1976.
Modernisme sebagai kelanjutan dari masa reinesance ternyata hanya melahirkan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan,tetapi tidak dalam penegakkan jati diri kemanusiaan seperti yg di cita citakan kaum humanis sa'at melawan kekuasaan gereja gereja dan doktrinitas agama di masa peterilistik dan skolastik. Modernitas hanya melahirkan kegersangan jiwa bagi manusia modern.
Agama/islam khususnya,sesungguhnya tidak membatasi ruang gerak bagi naluri kemanusiaan maupun akal rasional untk menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan seperti yg di tuduhkan kaum atheis selama ini.

Agama/islam khususnya,justru mendorong setiap orang untk mentafakuri keajaiban keajaiban dalam setiap peristiwa yg terjadi di semesta jagat raya ini,dalam rangka untuk mempertegas pengakuan akan kemaha segalaan Allah sbg pencipta penggerak sekaligus pengendali.
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan" QS. Al-Mujaadilah: 11
"Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan."
QS. Thaahaa: 114..
maha benar Allah dgn segala firmanNya.

Boleh jadi seseorang mengetahui mengerti dan memahami ajaran ajaran moral suatu agama,tetapi tdk lantas begitu saja dia mulus dalam mengimplementasikannya di kehidupan dunia yg di penuhi jebakan jebakan,sebab setiap orang harus menghadapi pertempuran akbar,dan musuh terbesarnya adalah dirinya sendiri.

Manusia sebagai makhluk ruhaniah,disamping memiliki potens ruh hewaniyah yg mereflexi dalam bentuk desakan kehendak selera diri rendah,juga memiliki potens ruh ilahiyah yg mereflexi menjadi suara kemanusiaan dalam bentuk hati nurani.
Apapun rasnya,apapun suku bangsa dan budayanya,hati nuraninya sama persis;yg membedakan hanya pada persepsi,interpretasi dan pola implementasinya.

Dari luar dirinya manusia menghadapi kendala sosial budaya dll serta destorsi informasi seiring perjalanan waktu yg cenderung mengaburkan informasi sejarah yg berdampak pada penyimpangan penyimpangan tafsir;belum lagi intervensi iblis yg menyimpan dendam berakar dengki,dan sangat piawai dlm hal memainkan perangkat lunak di dalam jiwa setiap orang

Ketika kaum agama mengambil hak tuhan,menghakimi musuh yg tdk sepaham,mengatas namakan cinta dgn meniupkan kebencian,dada umatpun lalu di penuhi amarah,gelap jiwa dan gelap akalnya.
Tuhan seakan realita obyek yg menakutkan,sok berkuasa,kasar dan beringas.
Orang orang yg bimbang semakin terkoyak gelisah,dan semakin menjadi jadi kesangsiannya.
Mereka lalu berhimpun di suatu tempat,danmengikrarkan agama cinta dgn kemanusiaan sbg tuhanya.

Dalam gelap ada secuil cahaya yg luput dari sergapan awan hitam
Dalam diam ada gerak yg memaksaku untk mengikuti iramanya
Orang orang berbaku hantam menghunus parang dan bersemangat meneriakan nama tuhannya
Tuhan yg mana yg sedang di belanya
Kebenaran siapa yg di ikutinya
Ketika ruh agama telah tercerabut dari bumi
Orang orang gelap jiwa dgn bodohnya bergerak meraih fatamorgana.

Selama engkau membanggakan pencapaian akal rasionalitasmu dan menafikan keberadaan akal batinmu,maka engkau tidak akan pernah mengerti maksud dari setiap peristiwa yg terjadi di semesta jagad raya ini.
Engkau tidak akan pernah mengerti mengapa tuhan membiarkan pertumpahan darah terus berlangsung di muka bumi.
Di biarkannya manusia membangun peradaban yg sombong,lalu negeri negripun di di lenyapkan keberadaannya.
Tetaplah patuh pada perintah anjuran dan laranganNya
Selama itu datang dari sumber hukum kebenaran.

Juned Topan 01022012

salam !

25 Januari 2012

Syair Ma'rifat Abdurrauf Fin Ali Al-Fansuri

jikalau diibarat
sebiji kelapa kulit dan isi tiada serupa
Janganlah kita bersalah sapa

tetapi beza tiadalah berapa
sebiji kelapa
ibarat sama

Lafaznya empat suatu ma’ana
di situlah banyak orang
terlena
sebab pendapat kurang
sempurna
kulitnya itu ibarat syariat
tempurungnya itu ibarat
tariqat
isinya itu ibarat haqiqat
minyaknya itu ibarat ma’rifat

Abdurrauf begitulah nama yang dilekatkan kepada anak lelaki itu. Dalam pertumbuhannya kelak ia dikenal sebagai ulama. Dan orang-orang dengan hormat memanggilnya dengan sebutan Syeikh Abdurrauf. Namanya yang singkat dan sederhana ini kadang-kadang dilengkapi dengan Syeikh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri. Oleh kharisma yang dimilikinya kemudian orang memberi sejumlah gelar seperti, Syeikh Kuala, Syeikh di Kuala atau Ciah Kuala dan Tengku Ciah Kuala. Ada pula yang menyebutnya dengan nama Abdurrauf van Singkel. Sebutan ini semua ada sebabnya. Disebut Syeikh Kuala karena Syeh Abdurrauf pernah menetap dan mengajar hingga wafatnya dan dimakamkan di Kuala sungai Aceh. Dan disebut Abdurrauf van Singkil karena Syeikh Abdurrauf lahir di Singkel 1593 M), Aceh Selatan.

Dimasa mudanya mula-mula Abdurrauf belajar pada ‘Dayah Simpang Kanan’ di pedalaman Singkel yang dipimpin Syeikh Ali Al-Fansuri ayahnya sendiri. Kemudian ia melanjutkan belajar ke Barus di ‘Dayah Teungku Chik’ yang dipimpin oleh Syeikh Hamzah Fansuri.

Syeikh Abdurrauf sempat pula belajar di Samudera Pase di Dayah Tinggi Syeikh Shamsuddin as-Sumaterani. Dan setelah Syeikh Syamsuddin pindah ke Banda Aceh lalu diangkat Sultan Iskandar Muda sebagai Qadhi Malikul Adil, Syeikh Abdurrauf mendapat kesempatan untuk pergi belajar ke negeri Arab. Selama belajar di luar negeri, 19 tahun Syeikh Abdurrauf telah menerima pelajaran dari 15 orang ulama.
Disebut pula Syeikh Abdurrauf telah berkenalan dengan 27 ulama besar dan 15 orang sufi termashur. Tentang pertemuannya dengan para sufi, ia berkata, ‘Adapun segala sufi yang mashur wilayatnya yang bertemu dengan fakir ini dalam antara masa itu...’.

Pada tahun 1661 M Syeikh Abdurrauf kembali ke Aceh. Setelah tinggal beberapa waktu di Banda Aceh ia mengadakan perjalanan ke Singkel. Kemudian kembali ke Banda Aceh untuk memangku jabatan selaku Qadly Malikul Adil, sebagai Mufti Besar dan Syeikh Jamiah Baitur Rahim, untuk menggantikan Syeikh Nuruddin ar-Raniri yang pergi menuju Mekkah.

Mengenai pendapatnya tentang faham orang lain nampaknya berbeda dengan Syeikh Nuruddin. Syeikh Abdurrauf tidak begitu keras. Hal ini dapat dilihat pada tulisan DR. T. Iskandar: “Walaupun Abdurrauf termasuk penganut fahaman tua mengenai ajarannya dalam ilmu tasawuf, tetapi -berbeda dengan Nuruddin ar-Raniri, ia tidak begitu kejam terhadap mereka yang menganut fahaman lain. Terhadap Tarekat Wujudiah, ia berpendapat bahwa orang tidak boleh begitu tergesa-gesa mengecap penganut tarekat ini sebagai kafir.

Membuat tuduhan seperti itu sangatlah berbahaya. Jika benar ia kafir, apakah gunanya mensia-siakan perkataan atasnya dan sekiranya ia bukan kafir, maka perkataan itu akan berbalik kepada dirinya sendiri’.(‘Abdurrauf Singkel Tokoh Syatariah (Abad ke-17) (Dewan Bahasa, 95, Mei 1965).

Syeikh Abdurrauf menulis buku dalam bahasa Melayu dan Arab. Bukunya yang terkenal a.l., ‘Turjumanul Mustafiid’, ‘Miraatut Thullab’ (Kitab Ilmu Hukum), ‘Umdatul Muhtajin lla Suluki Maslakil Mufradin’ (Mengenai Ke Tuhanan dan Filsafat), ‘Bayan Tajalli’ (Ilmu Tasawuf), dan ‘Kifayat al-Muhtajin’(Ilmu tasawuf). Seluruh karyanya diulis dalam bentuk prosa. Hanya satu yang ditulis dalam bentuk puisi yakni, ‘Syair Ma’rifat’.

Sebagai penyair sufi Syeikh Abdurrauf mempelihatkan kepiawaiannya dalam menulis puisi ‘Syair Ma’rifat’ itulah. Salah satu naskah syair ini disalin di Bukit Tinggi tahun 1859. Syair Ma’rifat mengemukakan tentang empat komponen agama Islam. Yakni Iman, Islam, Tauhid dan Ma’rifat. Nampak dalam syair itu unsur ma’rifat sebagai pengetahuan sufi yang menjadi puncak tertinggi. Dalam puisi itu Abdurrauf mencoba menjelaskan tentang pendekatan amalan tasawuf menurut aliran al-Sunnah wal al-Jamaah. Ikuti petikan syairnya dibawah ini,

jikalau diibarat
sebiji kelapa
kulit dan isi tiada serupa
janganlah kita bersalah sapa
tetapi beza tiadalah berapa

sebiji kelapa
ibarat sama
lafaznya empat suatu ma’ana
di situlah banyak orang
terlena
sebab pendapat kurang
sempurna
kulitnya itu ibarat syariat
tempurungnya itu ibarat
tariqat
isinya itu ibarat haqiqat
minyaknya itu ibarat ma’rifat


(‘Syair Ma’rifat. Perpustakaan Universiti Leiden OPH. No.78, hlm. 9-25/ Dewan Bahasa dan Pustaka, Desember l992)

Tingkat ma’rifat merupakan tahap terakhir setelah melalui jenjang syariat, tarekat dan hakekat dalam perjalanan menuju Allah. Untuk sampai ke tingkat ma’rifat menurut Syeikh Abdurrauf orang harus lebih dahulu menjalankan aspek syariat dan tarekat dengan tertib. Orang harus melakukan ibadah dengan benar dan ikhlas. Dalam kata-katanya sendiri Syeikh Abdurrauf berucap: “Dan sibukkanlah dirimu dalam ibadah dengan benar dan ikhlas demi melaksanakan hak Tuhanmu, niscaya engkau termasuk golongan ahli ma’rifat”.

Suasana mistik akan lebih terasa bila kita membaca dan mengikuti puisinya dalam baris-baris berikut ini. Petikan Syair Ma’rifat dari tulisan Arab berbahasa Melayu, bertulisan tangan ini dikutip dari ML. 378, halaman 40, terdapat di Perpustakaan Nasional RI. berbunyi sebagai berikut,

Airnya itu arak yang mabuk
siapa minum jadi tertunduk
airnya itu menjadi tuba
siapa minum menjadi gila

ombaknya itu amat gementam
baiklah bahtera sudahnya
karam
laut ini laut haqiqi
tiada bertengah tiada bertepi

Buku karya Syeikh Abdurrauf lainnya diberi judul ‘Kifayat al-Muhtajin’ disebut bahwa buku itu ditulisnya atas titah Tajul ‘Alam Safiatuddin, seorang Sultanah yang mengayomi ulama dan sastrawan. Kitab ini berisi ilmu tasawuf. Disebutkan sebelum alam semesta ini dijadikan Allah, hanya ada wujud Allah.
Ulama besar dan pujangga Islam Syeikh Abdurrauf meninggal l695 M dalam usia 105 tahun. Di makamkan di Kuala, sungai Aceh, Banda Aceh.