6 April 2011

KUNTO WIJOYO

WAWASAN SASTRA

DAN KEPENGARANGAN KUNTOWIJOYO



oleh Abdul Hadi W. M.





Dunia ini fana, tiada keka bagaikan sarang laba-laba

...

Ia hanya bayang-bayang yang cepat berlalu

Seorang tamu pada malam hari

Mimpi seorang yang sedang tidur nyenyak

Dan sekilat cahaya yang bersinar di cakrawala harapan



(Nukilan sajak Ali bin Abi Thalib pada batu nisan

Sultan Malik al-Saleh, raja Pasai Aceh -- wafat 1297 M)



Kuntowijoyo telah berpulang ke rahmatullah dua pekan lalu. Seorang sastrawan dan ilmuwan yang disegani telah menutup mata dan meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Kepergiannya terasa begitu menyesakkan, karena ketika ini sastra Indonesia sedang dilanda krisis pemikiran, sedangkan Kuntowijoyo adalah seorang di antara pemikir sastra yang gagasan-gagasannya senantiasa bernas dan segar. Lebih dari itu ia adalah salah seorang dari sedikit penulis 1970an yang prolifik hingga masa senja hidupnya. Dia telah menulis sejak masih duduk di bangku kuliah. Puluhan cerpen, puisi, beberapa novel dan naskah drama, kumpulan esai dan hasil penelitian dalam ilmu sejarah lahir dari tangannya. Suatu hal yang hampir tidak dapat dilakukan oleh sastrawan lain seangkatannya.

Cerpen-cerpen Kuntowijoyto yang awal (madya 1960an), khususnya dalam antologi Dilarang Mencintai Bunga-bunga,, dipilih untuk dijadikan titik tolak pembahasan karena mencerminkan ide-ide kepengarangan yang mulai berkembang di kalangan sastrawan muda Indonesia pasca polemik Lekra-Manifes Kebudayaan. Salah satu ide kepengarangan yang mulai berkembang itu ialah hasrat kuat melepaskan diri dari belenggu paham realisme (formal atau sosial) yang dirasakan mengkungkung dunia kepengarangan. Menurut pengarang-pengarang yang terangsang oleh ide baru itu, tugas pengarang bukan sekadar memotret realitas, tetapi juga melakukan kritik, idealisasi dan simbolisasi terhadap realitas. Dengan demikian hasil karyanya tidak hanya berpijak pada realitas kehidupan keseharian atau sosial, tetapi juga pada realitas spiritual dan budaya. Karya sastra lantas tidak hanya menjadi semacam dokumen sosial dan sejarah, tetapi lebih jauh menjadi dokumen kemanusiaan dalam artian luas. Di situ manusia tidak hanya dilihat sebagai makhuq sosial atau kejiwaan, tetapi juga makhluq spiritual yang memiliki kemampuan mentransendensikan diri.

Gagasan kepengarangan seperti tercermin betul dalam esai dan karya-karya Kuntowijoyo, sebagaimana juga tercermin dalam karya-karya Danarto, Arifin C. Noer dan Gerson Poyk. Tetapi mungkin agak mengejutkan juga, karena seorang pengarang seperti Kuntowijoyo yang mengangankan lahirnya karya-karya yang bercorak spiritual atau sufistik, dapat melahirkan sebuah novel sosial, yaitu Pasar, yang mengangkat tema perubahan dalam masyarakat yang tatanan nilainya mulai bergeser dan pola komunikasinya berubah, antara lain disebabkan hadirnya sistem perbankan dalam masyarakat yang masih terikat pada sistem ekonomi dan pasar tradisional.

Gagasan Kuntowijoyo tentang sastra transendental, yang yang dikemukakan dalam acara Duapuluh Sastrawan Bicara di DKJ TIM, Jakarta pada tahun 1983, lebih jauh lagi merupakan perkembangan lanjut dari ide-idenya yang mulai tumbuh pada pertengahan 1960an. Gagasannya itu ternyata bertolak dari pemikirannya, seperti dituliskan dalam esainya “Prosedur Lingkaran Dalam Kritik Sastra” (Horison, 1973). Kuntowijoyo antara lain mengatakan bahwa, “Yang kita harapkan sekarang ialah suatu pembangunan kembali dalam pemikiran (termasuk pemikiran dalam sastra) yang mampu membuat orang terhindar dari memilih antara pengalaman yang miskin dan pincang di satu pihak, dan akal yang dibuat-buat di lain pihak.” Salah satu caranya ialah dengan merubah pemahaman kita tentang manusia.

Kuntowijoyo mengemukakan bahwa pemahaman manusia tentang dirinya sendiri harus memakai konsep kunci baru, yaitu simbolisme. Maka pertenyaan mengenai hakekat sastra dan hubungannya dengan realitas harus dirubah. Sastra bukan sekadar representasi dari realitas, tetapi simbol. Simbol ialah penemuan dan penciptaan manusia, yang merupakan upaya spiritualnya untuk bisa hidup dalam dimensi baru dari realitas. Di situ manusia menemukan dirinya dan kesadarannya yang lebih kaya. Penemuan simbol yang hanya milik manusia ini telah membuatnya berbeda dengan binatang. Mitos, agama, bahasa, kesenian, sejarah dan ilmu pengetahuan adalah simbol. Sastra adalah simbol yang menggunakan bahasa sebagai alatnya. Tiap simbol mempunyai kebenarannya sendiri, hingga jangan mencari kebenaran dari satu simbol pada simbol lainnya. Jadi jangan mencari kebenaran dari sastra di dalam ilmu pengetahuan, karena tidak akan pernah didapatkan.

Pengertian tentang ‘simbol’ yang dimaksudkan Kuntowijoyo, tidak dapat disamakan dengan ‘sign’ atau ‘sememe’ dalam pemikiran kaum strukturalis dan semiotik, karena ia lebih mendekati pengertian ‘metafora’ Paul Ricoeur atau ‘symbol’ Gadamer. Sedangkan kenyataan yang ditampilkannya dapat dirujuk pada pengertian Ibn `Arabi tentang ‘alam misal’ (`alam al-mitsal), yaitu alam kehidupan yang menjadi perantara atau penyambung antara pengalaman transendental dan pengalaman empiris manusia. Henri Corbin mengartikan ‘alam misal’ sebagai ‘alam imaginasi’. Begitulah yang disajikan sebuah karya sastra pada dasarnya adalah sebuah alam misal, sebuah simbol atau metafora tentang kehidupan yang dipahami dan sekaligus pengalaman yang dihayati pengarang.

Pengertian Kuntowijoyo bahwa tindakan menulis karya sastra sebagai menciptakan simbol di sini, barangkali juga bisa dimengerti melalui konsep kunci yang dilakukan oleh Robert Jauss dalam telaah resepsi dan hermeneutika sastranya. Dua konsep kunci Jauss itu ialah Erfahrung dan Erlibniz. Yang pertama dimaksudkan sebagai ‘tindakan perenungan’ yang mencakup pengenalan terhadap sesuatu dan tidak hanya bersifat intelektual, tetapi melibatkan juga sarana spiritual dan kejiwaan manusia yang lain seperti rasa, intuisi dan penikmatan estetis. Sedangkan yang kedua, erlibniz, ialah pengalaman yang terhayati (tentang apa saja) yang menjadi sasaran dari erfahrung. Menurut Jauss (1973) hubungan seseorang (termasuk pengarang atau pembaca karya sastra) dengan sesuatu yang dihayati melalui pengalaman (erlibniz) bersifat kongkrit dan langsung.

Demikian, sekalipun karya sastra merupakan ‘simbol’ dan bukan ‘representasi realitas’, ia mempunyai hubungan nyata dan langsung dengan kehidupan. Karya sastra adalah hasil dari tindakan perenungan terhadap sesuatu yang dikenal, dipahami dan dihayati, baik secara intelektual, intuitif dan emosional oleh pengarang. Jadi, menurut Kuntowijoyo, yang ada dalam karya sastra adalah simbol, dan simbol adalah sarana konsepsi tentang obyek. Dalam simbol ini manusia mentransformasikan lingkungan dan pengalaman hidupnya. Simbol lantas menjelma seolah-olah sebuah dunia baru. Karena itu hubungan karya sasta dengan realitas tidak dapat dipandang sebagaimana hubungan antara cermin dan benda di hadapan cermin. Keharuan membaca karya sastra karenanya juga berbeda dari keharuan menghadapi peristiwa sehari-hari. Yang keseharian pada dasarnya, menurut Abhinava Gupta, dalam teori sugestinya (Rasa Dvanyaloka), bersifat khusus atau partkular, namun setelah diangkat dalam karya sastra telah mengalami ‘universalisasi’ sehingga pengalaman yang semula bersifat individual bisa dirasakan menjadi pengalaman yang bersifat universal.

Menurut Kuntowijoyo lagi, sastra tidak menunjuk pada obyek tertentu, melainkan gagasan atau imagisasi tentang sesuatu. Kemungkinan-kemungkinan sastra sangat luas, tidak sebagaimana diduga kebanyakan orang. Kadang-kadang sastra merupakan suatu sublimasi, proyeksi atau katharsis terhadap suatu kejadian. Kadang-kadang sastra ingin mencapai sesuatu yang jauh, dalam dan sunyi. Ia kerap bicara dalam suatu keheningan yang kudus. Untuk memahaminya, karena itu, menuntut pengerahan seluruh daya rohani. Khususnya pemahaman, sebab karya sastra bukan hanya rasa, tetapi juga mengandung inteligensia dan kearifan (wisdom, al-hikmah).

Karya sastra bukan hanya memberi kesan melalui fungsinya, tetapi terutama melalui kualitas pesan moral dan kemanusiaannya yang disugestikan melalui ungkapan-ungkapan estetisnya yang memiliki daya pembayang (imaginasi) yang kuat. Dalam upaya melahirkan karya sastra yang diidamkannya itu Kuntwowijoyo menggunakan sarana-sarana estetik sastra klasik seperti penciptaan tokoh, kejadian dan latar cerita yang aneh, ganjil, ajaib, serba unik, mengagumkan, mengerikan dan kadang-kadang dahsyat. Caranya membangun alur cerita, menampilkan tokoh dan kerjadian, serta latar cerita, dapat dibandingkan penulis-penulis lain yang sezaman seperti Iwan Simatupang, Danarto, Budi Darma, Arifin C. Noer dan lain-lain. Sekali pun tokoh cerpen-cerpen dan novel Kuntowijoyo terkesan ganjil, namun tetap berpijak pada realitas.

Contoh terbaik ialah cerpen-cerpen Kuntowijoyo yang awal yang dimuat dalam majalah Horison pada awal 1970an seperti “Burung Kecil Bersarang Di Pohon”, “Sepotong Kayu Untuk Tuhan” dan “Dilarang Mencintai Bunga-bunga”. “Burung Kecil Bersarang di Pohon” merupakan cerpen religius dan eksistensialistik yang menarik.

Seorang guru besar ilmu fiqih dan tauhid bersiap untuk menyampaikan khotbah Jum’at di sebuah masjid. Ia memakai baju putih, peci dan sarung yang bersih. Karena letak masjid cukup jauh, maka tokoh harus berangkat agak awal. Ia terpaksa melalui sebuah jalan dan pasar yang ramai. Sepanjang perjalanan itu ia mencemooh orang-orang yang sibuk berjual beli di pasar melakukan kegiatan duniawi, seakan-akan lupa bahwa hari itu adalah hari Jum’at dan saatnya orang bersiap pergi ke masjid. Di tengah perjalanan, ketika melewati sebuah tegalan, ahli fiqih kita bertemu dengan seorang anak kecil yang sedang berusaha menangkap seekor burung, tetapi tidak bisa karena burung itu bertengger di dahan pohon yang tinggi. Merasa kasihan, sang professor berhenti dan berusaha menolong anak itu untuk menangkap burung yang diinginkan. Karena asyiknya menolong anak itu, dia lupa harus berangkat cepat ke masjid. Seusai menolong anak kecil itu, ahli fiqih kita merasa sangat bahagia. Tetapi tidak lama kemudian hatinya merasa sedih karena baju yang dipakainya ternyata sudah kotor, dan lebih sedih lagi karena ketika dia sampai di masjid, salat Jum’at sudah usai dan orang-orang sudah berhampuran ke luar meninggalkan masjid.

Ia malu pada orang-orang yang mungkin akan mencemoohnya. Ia ingin masuk ke dalam masjid sendirian dan salat sendirian. Pikiran aneh muncul di kepalanya, jangan-jangan anak itu penjelmaan setan yang tugasnya menggoda manusia di jalan Tuhan. Ia merasa takut dimurkai oleh Tuhan, padahal baru saja ia merasakan suatu perasaan berbeda bersama anak kecil itu, perasaan bahwa ia bekerja keras, memanjat pohon asam untuk menangkap burung dan perbuatannya memberikan kebahagiaan kepada anak kecil itu. Ia baru saja merasa menjadi ‘manusia’ dalam arti sebenarnya bersama anak kecil itu, yang kini muncul sebagai bayangan setan.

Kuntowijoyo menutup cerpennya sebagai berikut: “Kemudian dia berpikir. Dia Yang Maha Tinggilah yang menggerakkan semuanya itu. Itu salah-Mu sendiri. Tidak. Engkau tidak bersalah. Tentulah, itu karena Dia ingin menunjukkan sesuatu kepadanya. Sebenarnyalah, ia mengerti sesuatu. Maka ia pun menangis. Seorang lelaki mendekat kepadanya. ‘Buya!’ kata orang itu. Ia menolak orang itu dan mencoba tersenyum. Karena kegembiraanlah ia menangis. “Tak ada apa-apa, pak!’ katanya. Ia pergi mengambil air wudhu. Mukanya berseri-seri. Orang-orang masih berkerumun di luar, ketika ia masuk ke dalam. Pengalaman hari itu pastilah suatu kesengajaan Tuhan. Ia tidak ragu. Alangkah ajaibnya cara-Mu menunjukkan. Anak kecil itu ialah anak manusia. Ia rindu kepada anak itu, burung-burung bahkan keributan pasar. Seperti sekarang, ia rindu kepada-Nya.’”

Dalam “Sepotong Kayu untuk Tuhan” Kuntowijoyo menyajikan kisah lelaki tua di sebuah dusun terpencil. Ia hidup bersama istrinya yang bawel. Ia berkebun di di tanah warisan orang tuanya. Sekalipun a bekerja keras, istrinya memandangnya pemalas. Suatu hari ketika ia sendirian di rumah dan istrinya pergi menjenguk anaknya di desa lain, timbullah hasratnya untuk bermalas-malas dan menikmati kesendirian sesantai mungkin. Tetapi tiba-tiba kesadaran muncul dalam dirinya: sebagai seorang Muslim tidaklah baik bermalas-malas dan menyia-nyiakan waktu. Kini dia ingat di dusun itu orang sedang membangun sebuah masjid dan surau. Telah banyak orang memberikan sumbangan baik tenaga, pikiran dan harta. Ingat ini dia pun mengurungkan niatnya untuk bermalas-malas. Dia pergi menuju kebunnya. Ia menemukan sebuah pohon nangka tua yang ditanam dan dipeliharanya sendiri sejak kecil. Dia memilih batang nangka itu sangat baik untuk disumbangkan bagi pembangunan masjid itu. Dia bekerja keras menebang pohon itu bersama seorang temannya. Dia ingin menyumbangkan pohon itu secara diam-diam.

Pada suatu malam yang gelap, kayu nangka itu dia hanyutkan ke sungai dan tidak lama kemudian kayu itu terdampar tidak jauh dari tempat masjid dan surau itu sedang dibangun. Tetapi sayang, pada waktu subuh ketika ia datang ke tempat itu, dia melihat kayu nangka itu sudah tidak ada di sana. Ia telah dibawa hanyut oleh banjir yang datang tengah malam. Mula-mula dia kecewa, akan tetapi kemudian tersenyum sambil berkata, ‘Sesuatu telah hilang. Tidak. Tidak ada yang hilang...Sampai kepada-Mukah Tuhan?’

Cerpen ini begitu simbolik dan puitik, dan sangat sufistik, namun tetap berpijak pada realitas. Tentu saja kesufistikan cerpen Kuntowijoyo itu berbeda dengan kesufistikan cerpen-cerpen Danarto. Bandingkan cerpen ini dengan cerpen Kuntowijoyo yang lain, “Dilarang Mencintai Bunga”. Dalam cerpen ini diceritakan seorang anak dihadapkan pada pilihan yang sama peliknya: Mengikuti jalan hidup ayahnya yang senang pekerjaan kasar, atau mengikuti jalan hidup seorang kakek tua tetangganya yang misterius dan merasa bahagia hidup sendiri dengan bunga-bunga yang ditanam di kebunnya. Ketentraman dan kedamaian bagi si kakek tua adalah sumber kesempurnaan dan kebahagiaan. Tetapi ayah anak itu memandang bahwa sumber kebahagiaan adalah bekerja keras membangun jembatan dan gedung. Tanpa orang yang bekerja kasar, kata si ayah, tidak mungkin manusia mencapai kemakmuran. Ternyata si anak memilih untuk memilih kedua-duanya dengan cara menyeimbangkannya. Tindakan dan renungan (aksi dan kontemplasi) sama pentingnya dalam hidup. Kita tidak tahu yang mana yang lebih utama dan harus didahulukan, seperti halnya tidak mudah menentukan mana yang lebih dulu telur apakah ayam.

Gagasan kepengarangan Kuntowijoyo yang telah berkembang sejak awal 1970an itu mencapai puncak sublimasinya dalam novelnya Khotbah Di Atas Bukit. Novel ini kemungkinan besar ditulis oleh Kuntowijoyo pada tahun 1972 atau 1973, pada saat dia menulis esainya “Prosedur Lingkaran Dalam Kritik Sastra” seperti dikutip dalam awal tulisan ini. Seperti kehadiran cerpen Danarto “Rintrik” dan novel Iwan Sumatupang Ziarah, keduanya pada akhir 1960an, kehadiran novel Kuntowijoyo merupakan sesuatu yang baru dan ganjil dalam penciptaan karya sastra di Indonesia. Ia bukan novel biasa yang bertolak dari wawasan realisme formal atau realisme sosial. Cerita hadir sebagai dunia baru yang dicipta oleh pengarang berdasarkan imaginasinya dan pengalaman-pengalaman pengarang dihadirkan sebagai simbol. Mungkin karena tidak biasa itulah maka ketika novel ini disiarkan sebagai cerita bersambung di harian Kompas pada tahun 1974, pembaca mencemooh dan menyesalkan publikasi novel tersebut di suratkabar kesayangannya. Setelah novel itu diterbitkan pada tahun 1976 oleh Pustaka Jaya, tidak banyak kritikus sastra memberi perhatian kepada novel ini. Sambutan awal yang menggembirakan terhadap novel ini diberikan oleh Mangunwijaya pada tahun 1982. Tetapi ketika novel ini diterbitkan kembali pada awal tahun 1990an oleh Bentang, dalam setahun saja ternyata mengalami cetak ulang 3 kali.

Ada beberapa hal yang dapat dicatat mengenai novel ini, mudah-mudahan masih dalam konteks kepengarangan Kuntowijoyo dan perspektif wawasan estetiknya. Pertama, bagi pembaca yang pernah tinggal di Yogya pada akhir 1960an dan awal 1970an, latar yang dipaparkan Kuntowijoyo dalam novelnya itu akan membawanya ingat pada Kaliurang, sebuah tempat peristirahatan di lereng Gunung Merapi di sebelah utara kota Gudeg itu. Ketika itu Kaliurang masih sepi dan benar-benar merupakan daerah peristirahatan yang nyaman. Cerita-cerita yang aneh, ceram dan ganjil banyak kita dengar dari orang yang pernah tinggal di situ. Kaliurang juga merupakan tempat orang-orang kebatinan nyepi dan meditasi, atau tirakat dan melakukan ritual yang aneh. Semua itu berhasil disublimasikan oleh Kuntowijoyo dalam Khotbah Di Atas Bukit.

Kedua, dalam menggarap novelnya itu Kuntowijoyo juga menggunakan sarana-sarana estetik dari sastra mistikal atau sufi. Misalnya tampak dengan hadirnya tokoh kembar Barman dan Humam, yang dapat dihubungkan dengan Kisah Dewa Ruci. Dalam Dewa Ruci, Bima berjumpa dengan tokoh kembarannya Dewa Ruci (yang tubuhnya lebih kecil, tetapi wajahnya mirip). Perjalanan ke gunung yang dilakukan oleh Barman untuk beristirahat bersama Poppy, wanita yang dihadiahkan oleh anaknya untuk mendampingi hidupnya selama tinggal di tempat peristirahatan di lereng gunung, adalah semacam tamsil atau kias bagi perjalanan rohani manusia dari tempat rendah ke tempat tinggi. Tamsil semacam ini lazim digunakan oleh pengarang-pengarang Jawa Kuna dan sufi Melayu. Bandingkan misalnya dengan Arjuna Wiwaha, atau kisah perjalanan tokoh-tokoh cerita Melayu seperti Hikayat Inderaputra. Tamsil pendakian ke puncak gunung untuk menjumpai kebenaran tertinggi juga digunakan oleh Hamzah Fansuri pada abad ke-16 dalam syair-syair tasawufnya. Kuntowijoyo sangat akrab dengan simbol-simbol semacam itu dan dapat mentranformasikannya ke dalam novelnya.

Ketiga, bagi pembaca yang pernah mengikuti diskusi-diskusi sastra informal yang sering dilakukan sastrawan-sastrawan muda Yogya di warung-warung kopi dan gudeg di Malioboro dan tempat lain, akan mudah memahami bahwa dialog-dialog dalam novel Kuntowijoyo itu mencerminkan apa yang sering didiskusikan oleh penulis-penulis muda pasca 1965. Di antara materi-materi yang didiskusikan kala itu ialah mengenai falsafah eksistensialisme, mistisisme, religiusitas, sastra absurd dan lain-lain, yang semuanya itu sebetulnya merupakan fenomena awal bagi munculnya posmodernisme. Dialog-dialog dalam Khotbah Di Atas Bukit, setidak-tidaknya berkisar di sekitar eksistensialisme, mistisisme dan religiusitas. Kala itu hedonisme material, yang dicerminkan dalam kehidupan Barman, juga sudah mulai tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya tingkat kemakmuran ekonomi manusia kota. Tidak kalah lagi, kala itu ialah suburnya aliran kebatinan atau kepercayaan. Semua itu tergambar dalam novel Kuntowijoyo. Hanya karena penyajiannya yang tidak mengikuti alur dan bingkai realisme formal/sosial, maka pada awal terbitnya novel ini kurang mendapat sambutan masyarakat sastra.

Gagasan Kuntowijoyo tentang sastra transendental, yang dikemukakannya pada tahun 1983, saya kira bertolak dari novelnya ini. Sedangkan gagasannya tentang sastra profetik merupakan perkembangan lebih jauh lagi. Kata Kuntowijoyo, “Saya kira kita memerlukan juga sebuah sastra transendental. Oleh karena tampak aktualitas kita tidak dicetak oleh roh kita, tetapi dikemas oleh pabrik, birokrasi, kelas sosial, dan kekuasaan maka kita tidak menemukan wajah kita yang otentik. Kita terikat pada yang semata-mata kongkrit dan empiris yang dapat ditangkap indera kita. Kesaksian kita kepada aktualitas dan sastra adalah sebuah kesaksian lahiriah – jadi sangat terbatas. Maka pertama-tama kita harus membebaskan diri daro aktualitas, dan kedua, membebaskan diri dari peralatan inderawi kita (Dua Puluh Sastrawan Bicara, DKJ 1984:154-5).

Pembebasan dari aktualitas dalam sastra merupakan jalan (semacam suluk) menuju aktualitas baru. Yaitu dunia makna-makna. Perjalanan Barman ke tempat peristihatan ke lereng gunung, walaupun motif awalnya untuk beristirahat seraya bersenang-senang bersama seorang wanita cantik, pada dasarnya merupakan simbol pembebasan yang dimaksudkan, sekaligus kenaikan seseorang dari hal yang jasmani dan inderawi menuju maqam rohani dan maknawi. Di lereng gunung itulah, Barman – berkat diplomat tua yang telah duda dan hedonis tulen – menemukan makna baru dalam hidupnya, dan memahami sebab-sebab dari nihilismenya. Makna baru dijumpai setelah dia menyucikan diri (ditamsilkan dengan membersihkan diri dengan air gunung yang jernih, atau athirta dalam mistik Hindu Jawa) dan menenggelamkan diri dalam kesunyataan alam awang-uwung (ahanyutan, fana’). Pada tahapan berikutnya dia berjumpa dengan Humam, kembaran dirinya yang tidak lain adalah manifestasi dari diri rohaninya yang selama ini terlupakan disebabkan terlalu silau pada kesenangan jasmani dan duniawi.

Dalam konteks sastra, pembebasan tersebut berkenaan dengan bahan penulisan. Selama ini, menurut Kuntowijoyo, pengarang terlalu terikat dan tergantung pada aktualitas. Pembebasan harus diakukan supaya sebuah gagasan murni tentang dunia dan manusia bisa didapatkan dan imaginasi sanggup mencipakan sebuah dunia tersendiri yang tidak dibatasi oleh ruang, waktu dan peristiwa keseharian. Kita tidak harus hanya menjadi jurubicara dari dunia ejala-gejala, tetapi yang lebih penting ialah mengungkap apa yang berada di sebalik tangkapan indera. Kita menjadi wakil dari sebuah dunia yang penuh makna. Ini bersangkut paut dengan cara kita mendekati obyek-obyek sastra, yaitu seperti menangkap hakikat segala sesuatu. Untuk sebuah sastra transendental yyang pening bukan bentuk, tetapi makna; yang ‘di dalam’ bukan ‘yang di permukaan’. Perjalanan ke dunia makna adalah pendakian atau penerbangan ke dunia atas, seperti dinyatakan dalam sajaknya “Perjalanan ke Langit” (dalam antologi Isyarat 44):



Bagi yang merindukan

Tuhan menyediakan

Kereta cahaya ke langit

Kata sudah membujuk

Bumi unuk menanti

Sudah disiapkan

Awan putih di bukit



Berikan tanda

Angin membawamu pergi

Dari pusat samudera

Tidak cepat ata lambat

Karena menit dan jam

Menggeletak di meja

Tangan gaib mengubah jarum jam

Berputar kembali ke-0



Waktu bagai salju

Membeku di rumputan

Selagi kau lakukan perjalanan





Khotbah Di Atas Bukit merupakan novel yang sarat dengan renungan-renungan sufistik dan filosofis. Banyak sarana estetik sastra mistik Jawa dan sufi Melayu yang digunakan. Selain tamsil pendakian ke gunung, penghadiran tokoh kembar, laku penyucian diri dan kehanyutan, juga penggunaan unsur erotis. Barman, tokoh utama novel itu, mengakhiri hidupnya dengan menunggang kuda putih. Dalam mitos Hindu, pada akhir zaman Kalki – yang merupakan penjelmaan Wisnu – akan muncul menunggang kuda putih. Kuntowijoyo juga menggunakan paradoks-paradoks sufi dalam monolog atau pun dialog tokoh novelnya. Misalnya perkataan Human kepada Barman, “Keadaanku ialah ketiadaanku. Atau sebaliknya!’

Di sini terdengar gema dari renungan sufistik Sunan Bonang dalam Suluk Kaderesan:



Nafi jinis (peniadaan genus) berarti

‘Yang tidak wujud’

Adanya ialah tiada

Nafi nakirah (peniadaan mutlak) artinya

Kewujudannya dicipta

Adanya disebabkan perintah Kun! (fayalkun)



Tamsil nafi jinis

Jika dirujuk pada dirinya sendiri

Berarti hakikatnya tiada

Ketahui ini!

Kata nakirah lantas berarti

Ada dan tiada bukan sifatnya (yang abadi)

Nama yang dapat diberikan ialah tiada



Yakini ini, sungguh pun sukar

Yakini makna dua hal ini!

Tiada itu dikenakan

Pada benda-benda yang tak punya wujud (hakiki)

Dan itu disebut ‘suwung’ (kosong)

Yang jika lenyap tak meninggalkan bekas



(lihat Kembali Ke Akar Kembali ke Sumber. 1999:33)



Satu lagi renungan sufistik dalam bentuk paradoks pernyataan di dalam novel itu ialah komentar khalayak ramai ketika menyaksikan kematian Barman yang terjerumus jurang bersama kuda putihnya:



“Tak ada lagi harapan!” kata orang yang satu.

“Tak ada lagi putus asa!” sahut prang kedua dan seterusnya.

“Tidak ada lagi kebahagiaan!”

“Tidak ada lagi kesedihan!”

“Dan yang ada adalah hidup (al-hayy, pen.) kita!”

“Yang sempurna!”

“Yang kosong...”

“Tidak ada lagi yang bertentangan!”

“Aduh darahnya!” = “Aduh senyumnya!”

“Aduh remuknya!” = “Aduh bagus wajahnya!”



Melalui dialog-dialog ini Kuntowijoyo ingin memperlihatkan bahwa suatu peristiwa dalam kehdupan ini bisa menimbulkan kesan, tanggapan dan bahkan pendapat yang berbeda-beda. Segala sesuatu di dunia fenomena ini memang relatif, dan relativisme menimbulkan apa yang disebut oleh Lao Tze sebagai chaos (dalam Tao Te Ching). Kita pun juga pasti memiliki tanggapan yang berbeda tentang pengarang yang berbeda-beda, termasuk Kuntowijoyo. Tetapi yang tidak dapat disangkal ialah bahwa Kuntowijoyo merupakan penulis Indonesia sesudah kemerdekaan yang pertama kali mengungkapkan persoalan falsafah perenial dalam karangan prosanya bersama-sama Danarto.

Selamat jalan sohib yang budiman! Selamat jalan mas Kunto!



Jakarta 15 April 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar