ORKES PUISI SAMPAK GUSURAN

Loading...

2 Mei 2011

RUMI DAN RELEVANSI SASTRA SUFI

oleh Abdul Hadi Wm pada 15 April 2011 jam 16:04
RUMI DAN RELEVANSI SASTRA RUFI

Abdul Hadi W. M.

Tahun 2007 ini, tepatnya 30 September nanti, ratusan ribu pengikut Tariqat Maulawiyah di seluruh dunia, akan memperingati 800 tahun hari lahir pemimpin besar spiritual mereka, Jalaluddin Rumi. Tetapi ternyata perayaan kali ini berbeda. Hari lahir Rumi akan diperingati di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Unesco, sebuah badan dunia yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan dan bernaung di bawah PBB, telah menetapkan tahun ini sebagai Tahun Rumi, di samping sebagai Tahun Imigran.
Apa dasar pertimbangan Unesco? Salah satu jawabnya tentulah karena relevansi karyanya. Selain itu Rumi merupakan salah satu contoh dari anak seorang imigran yang berjaya menjadi tokoh besar dalam sejarah peradaban. Karena itu, izinkanlah dalam kesempatan ini saya membicarakan karya Rumi dan relevansinya yang merupakan cermin terbaik dari seluruh khazanah sastra Islam. Melalui karya Rumi, seperti halnya melalui karya sastrawan besar Islam yang lain, akan kita betapa mendalamnya pengaruh al-Qur’an dan Hadis terhadap perkembangan sastra Islam, yang menjamin keberadaannya selama berabad-abad.
Karya-karya penulis Muslim itu pula, sebagaimana tampak dalam sajak-sajak dan prosa lirik Rumi, menunjukkan eratnya hubungan seni dengan falsafah dan cabang-cabang ilmu Islam yang lain. Juga dengan pengalaman sejarah berikut tantangan-tantangan yang dihadapi kaum Muslimin dalam situasi yang berbeda-beda. Tanpa melantunkan semboyan ‘seni sebagai media dakwah’, karangan-karangan mereka --- melalui pesan moral dan keruhanian, serta wawasan estetikanya, berjaya mengukuhkan perannya yang penting dalam sejarah Islam. Terutama sebagai pemberi ilham dan pembentuk kebudayaan Islam di mana pun agama ini berkembang.
Melalui ungkapan estetik sastra yang sarat pesona dan kandungan spiritual, para sufi itu meletakkan dasar-dasar pandangan hidup (way of life), system nilai dan gambaran dunia (Weltanschauung) yang menjadi fundasi kebudayaan dan sendi peradaban Islam. Pandangan hidup, sistem nilai dan gambaran dunia yang membentuk jagat sastra mereka itu sepenuhnya merupakan hasil tafsir yang mendalam terhadap al-Qur’an dan Hadis, yang dengan itu mereka melihat, menyikapi dan menggambarkan pengalaman keruhanian dan kemanusiaan.

Rumi dan Zamannya
Abad ke-13 M pada masa hidup Rumi dalam banyak hal mirip dengan masa kita hidup. Khususnya di wilayah-wilayah yang dahulunya merupakan kawasan kekahlifatan Abbasiyah di Baghdad. Setelah lima abad berjaya mengembangkan peradaban dan kebudayaan yang menakjubkan, pada masa kemunculan Rumi, agama Islam mulai mengalami kemunduran. Krisis itu diperparah dengan perpecahan internal, yaitu tumbuhnya madzab-madzab keagamaan saling bertikai disebabkan perbedaan teologis. Ujung-ujungnya adalah pertikaian politik yang kian runcing dari waktu ke waktu. Di mana-mana di dunia Islam ketika itu terjadi banyak kekacauan. Peradaban dan kebudayaan Islam mandeg. Dalam menjalankan kehidupan agamanya, umat diarahkan untuk lebih menekankan pada aspek-aspek legalistik formal dari ajkaran agama.
Dalam kurun yang sama ancaman dari luar datang bertubi-tubi, merobek-
robek keutuhan negeri kaum muslimin dan kesatuan sosial politiknya. Pada akhir abad ke-11 M Perang Salib pertama meletus, dan secara bergelombang terus berkobar selama tujuh kali hingga terhenti pada akhir abad ke-13 M. Pada tahun 1200 M Jengis Khan membawa pasukan Mongol menaklukkan negeri-negeri Islam di kawasan Asia Tengah dan Persia. Pada tahun 1256 M ibukota kekhalifatan Abbasiyah, Baghdad diserbu dan diratakan dengan tanah.
Dalam tahun-tahun penuh kegelapan itu Rumi dibesarkan dalam pengungsian. Ketika usianya baru tiga tahun dia telah dibawa pengungsi oleh orang tuanya dari kota kelahirannya Balkh, Afghanistan sekarang, menuju Nisyapur, Timur Daya Iran. Tahun 1220 M Nisyapur diserbu Jengis Khan. Rumi dan keluarga mengungsi lagi ke Baghdad. Dirasakan tidak aman di tempat tinggalnya yang baru, ayahnya membawa Rumi ke Mekkah, kemudian Palestina, Damaskus dan Libanon. Pada tahun 1221 keluarga Rumi menetap di Laranda dan pada akhirnya empat tahun kemudian menetap di Konya, Turki sekarang, hingga akhir hayatnya.
Sejarah sepertinya berulang. Wilayah-wilayah yang ketika itu penuh dengan pergolakan politik dan peperangan, seperti Afghanistan, Irak, Libanon dan Palestina, sekarang pun demikian. Serentetan perang dan tindakan kekerasan lainnya sejak meletusnya Perang Arab Israel 1973, Perang Saudara di Libanon, pembantaian Israel atas orang Palestina, Perang Iraq Iran, pendudukan Sovyet atas Afghanistan pada 1981, Perang Teluk 1991, invasi AS ke Afghanistan dan Irak pada awal millennium ketiga, dan masih banyak lagi yang lain, telah merubah sebagian wilayah yang dilalui pengungsi-pengungsi abad ke-13 M semasa penaklukan bangsa Mongol, menjadi neraka. Akibatnya banyak penduduk negeri ini pindah dan menjadi imigran di negara-negara Eropa, Amerika, Canada dan Australia. Dan seperti pada zamannya Rumi, hanya Turki barangkali yang merupakan wilayah yang relatif paling aman dibanding tetangga dekatnya.
Nama lengkap Jalaluddin Rumi ialah Jalaluddin Muhammad bin Husayn al-Khattibi al-Bahri. Nama takhallus al-Rumi atau Mulla yi-Rum diberikan karena sang sufi menjalani sebagian besar masa-masa hayatnya di Anatolia, Turki sekarang. Sebelum direbut oleh Dinasti Saljug, wilayah ini merupakan bagian dari kekaisaran Rumawi Timur atau Byzantium. Pada tahun 1225 M, Sultan Alauddin Kaykubad – penguasa Anatolia ketika itu – meminta ayah Rumi, Bahauddin Walad, tinggal di Konya beserta keluarga.
Dengan bantuan sultan yang pemurah itu Bahaudin Walad mendirikan sebuah madrasah besar di Konya yang mampu menampung ratusan murid. Lembaga pendidikan ini segera terkenal ke seluruh pelosok negeri Islam di sekitar Anatolia. Ketika itu Konya menjadi pusat baru kebudayaan dan pendidikan keagamaan menggantikan kota-kota lain yang hancur akibat peperangan. Pada tahun 1331 M Bahauddin Walad wafat. Rumi, yang ketika itu berusia 24 tahun, harus menggantikan ayahnya menjadi kepala sekolah. Tugas itu tidak ringan, sebab jumlah santri yang belajar di situ jumlahnya melebihi seribu orang.
Sampai usianya 35 tahun, tidak tampak tanda bahwa Rumi berhasrat menjadi seorang sufi, apalagi penyair. Dia memang telah mempelajari tasawuf pada Syekh al-Tarmidhi, seorang sufi terkemuka yang datang ke Konya pada tahun 1232. Bahkan ketika Rumi belajar di Madrasah Tinggi Halawiyah, Aleppo, dia sempat memperdalam studinya dalam ilmu tasawuf, sastra dan tafsir al-Qur’an metode sufistik. Kehidupannya setelah itu hanyalah mengajarkan ilmu-ilmu formal keagamaan. Tetapi pertemuannya dengan Syamsi Tabriz, seorang darwish atau sufi pengembara dari Tabriz Iran, yang hadir di Konya, pada tahun 1244, telah merubah total kehidupan dan kepribadian Rumi.
Khutbah-khutbah sufi kharismatik itu, pemikiran dan kepribadiannya makin menarik minatnya kepada spiritualitas dan ekstase keruhanian. Rumi mengikuti sang darwish kemana ia pergi dan selalu berusaha memperoleh bimbingannya. Selama hampir tiga tahun dia mengikuti tokoh yang digandrungi, sampai akhirnya terjadi perpisahan ketika sang darwsih menghilang tanpa diketahui jejaknya, dan Rumi terus mencarinya. Dirasuk oleh kerinduan dan cinta yang mendalam kepada guru spiritualnya itu Rumi berubah menjadi seorang penyair yang kaya dengan ungkapan puitis dan imaginatif. Lambat laun kerinduan dan cintanya itu berubah menjadi kerinduan dan cinta mistikal kepada Tuhan. Dia bahkan selalu melihat bayangan cinta ilahi dalam diri sang darwish seperti diungkapkan dalam salah satu sajaknya dalam antologi Divan-i Shams Tabriz.

ORANG TUHAN

Orang Tuhan, mabuk tak minum anggur
Orang Tuhan, kenyang tak makan daging
Orang Tuhan, nanar gila sasar dan majenun
Orang Tuhan, tak sempat tidur dan makan
Orang Tuhan, raja memakai jubah fakir
Orang Tuhan, harta dalam puing kehancuran
Orang Tuhan, tidak dari udara dan tanah dicipta
Orang Tuhan, bukan dari api dan air asalnya
Orang Tuhan, lautan luas tidak bertepi
Orang Tuhan, menghujankan mutiara tanpa mendung
Orang Tuhan, memiliki seratus langit dan bulan
Orang Tuhan, memiliki seratus matahari
Orang Tuhan, bijak dan arif karena benar
Orang Tuhan, tidak belajar dari kitab semata
Orang Tuhan, di seberang kekafiran dan agama
Salah dan benar tidak berbeda rupanya
Orang Tuhan, bebas dari yang tiada
Orang Tuhan, selalu terpelihara ia
Orang Tuhan, tersembunyi dalam rahasia
Cari dia, Syamsidin --
Matahari Agama – dan jumpai!


Syamsi Tabriz selalu menyerukan perlunya manusia mencintai Tuhan. Dengan demikian kepercayaan dan harapan dalam dirinya tumbuh kembali. Umat Islam, menurutnya, harus berusaha sekuat daya memerangi kelemahan diri mereka dan bangkit membangun kembali rumah keimanan dalam dirinya agar dapat meraih masa depan yang lebih baik. Peradaban umat manusia hanya dibangun berdasarkan cinta ilahi atau anthusiasme ketuhanan.
Pada akhir abad ke-13 M, di sebagian besar pelosok negeri Islam tidak sedikit dijumpai darwish, faqor atau sufi pengembara seperti Syamsi Tabriz. Mereka menjelajahi negeri-negeri yang mereka kenal untuk menyebarkan agama Islam tanpa mempedulikan habisnya harta dan hilangnya nyawa mereka. Di antara mereka tidak sedikit yang berdagang agar bisa mandiri dan bahkan memiliki jaringan-jaringan intelektual dan persaudaraan sufi (tariqa), di samping jaringan perdagangan dan politik (ta`ifa). Mereka menjadi tulang punggung penyebaran agama Islam ke wilayah yang luas di pedalaman Afrika, Asia Tengah, anak benua India dan segenap pelosok kepulauan Nusantara.
Berkat dakwah mereka banyak penguasa pribumi di Nusantara berhasil diislamkan pada abad ke-13 – 16 M. Dalam berdakwah mereka menggunakan saluran budaya dan seni, selain saluran perdagangan, perkawinan dan pendidikan. Menjelang akhir abad ke-13 M, berkat seruan mereka penguasa dan orang-orang Mongol pun berbondong-bondong memeluk agama Islam. Dampaknya sudah pasti, peradaban Islam yang mati akhirnya muncul kembali di permukaan bumi.
Kembali ke Rumi. Setelah berpisah dengan guru keruhaniannya, dia akhirnya mengembara ke berbagai pelosok negeri Islam untuk mencari gurunya, sambil menyebarkan agama. Setelah tidak berhasil menemui gurunya ia akhirnya letih. Demikianlah akhirnya pada tahun 1249 Rumi kembali ke Konya setelah mendapatkan pencerahan di jalan panjang tasawuf. Tetapi kembalinya ke Konya, bukan lagi sebagai guru ilmu-ilmu formal. Melainkan sebagai penyair dan seniman, dan untuk memulai tugas barunya sebagai guru kerohanian.
Kedatangan kembali Rumi di Konya mendapat sambutan gembira, terutama dari kalangan pengikutnya. Murid-murid berbondong datang dari waktu ke waktu untuk mendapat bimbingan keruhanian dari guru muda yang daya pikat ini. Sementara itu sang sufi selalu merindukan kehadiran guru spiritualnya, yang dengan itu puisi-puisi dan renungan-renungan kesufiannya memancur terus dari lubuk hatinya.
Sebagian besar puisi Rumi yang awal lahir pada waktu dia mengalami ekstase mistis. Ilham yang begitu deras menggenangi jiwa dan kalbunya segera dituturkan kepada murid-murid terdekatnya, dan murid-muridnya mencatat kata-kata yang dituturkan oleh guru mereka dengan teliti. Catatan-catatan itu kemudian dihimpun dan disunting sebelum disiarkan dalam bentuk antologi. Kecuali mencipta puisi, Rumi juga mencipta tarian spiritual dengan gerakan berputar seperti gasing. Tarian inilah yang membuat pengikut Tariqat Maulawiyah dijuluki sebagai The Whirling Dervish oleh para orientalis. Diiringi lantunan suling dan kendang, tarian ini sampai kini masih tetap dipertunjukkan di Turki. Bukan hanya penduduk Konya yang begitu tertawan oleh tarian tersebut, tetapi juga ribuan wisatawan dari berbagai mancanegara.

Rumi dan Sastra Sufi
Sastra sufi, khususnya puisinya, telah mulai berbenih dan bertunas pada abad ke-8 dan 9 M. Rabiah al-Adawiyah, Dhunnun al-Misri, Bayazid Bisthami dan Mansur al-Hallaj dapat dikatakan merupakan pelopornya yang awal. Tema sentral karya mereka adalah cinta ilahi dan persatuan mistis (fana). Dengan menggunakan berbagai image simbolik atau tamsil seperti anggur, karya mereka hadir sebagai ungkapan theofani yang pekat dan padat. Pada abad ke-12 M perkembangan sastra sufi mulai mencapai tahap perkembangan menentukan di tangan sufi besar seperti Ibn `Arabi, Ibn Faried, Sana`i, dan Fariduddin al-Aththar. Pada awal abad ke-13 M, bermunculan banyak penyair sufi terutama dalam kesusastraan Persia. Yang terkenal di antaranya ialah Ruzbihan al-Baqli, Mulla Sa`di, dan lain-lain. Dengan munculnya karya Rumi, sastra sufi mencapai masa puncak dalam perkembangannya. Puncak itu dilanjutkan di Persia sampai abad ke-18 M sebagaimana tampak dalam karya penyair seperti Fakhrudin `Iraqi, Mahmud Shabistari, Maghribi, Nikmatullah Wali, Hafiz, Jami, dan lain-lain.
Pengaruh sastra sufi Arab dan Persia itu segera meluas ke wilayah lain Dunia Islam. Pada abad ke-15 – 17 M kita menyaksikan perkembangan sastra sufi dalam bahasa Turki Usmani, Sindhi, Urdu, Melayu, dan lain sebagainya. Intensitas mereka dalam penulisan kreatif, dan keluasan wawasan estetikanya, menyebabkan tasawuf mewarnai perkembangan sastra Islam pada kurun-kurun tersebut dalam hampir semua aspeknya. Di India muncul penyair sufi besar seperti Amir Khusraw, Khwaja Mir Dard dan Ghalib, dan mencapai puncaknya dengan munculnya Muhammad Iqbal pada abad ke-20. Di Turki muncul Ynus Emre, Esrefoglu, dan lain-lain. Di kepulauan Nusantara muncul sastrawan sufi terkemuka seperti Hamzah Fansuri, Sunan Bonang, Syamsudin Pasai, Nuruddin al-Raniri, Abdul Jamal, Hasan Fansuiri, Yasadipura I dan II, Raja Ali Haji, Ranggawarsita, dan masih banyak lagi.
Tetapi di atas segalanya, Rumi merupakan salah seorang sufi yang paling terkemuka dan sastrawan Muslim yang paling banyak mewariskan karya agung kepada dunia hingga hari ini. Dua kitab puisinya Divan-I Shams Tabriz dan terutama Mathnawi-I- Ma`nawi bukan saja merupakan masterpice sastra Persia, tetapi juga sastra dunia. Puisi—puisi Rumi dalam dua kitabnya ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa Asia dan Eropa sejak abad ke-14 M hingga kini. Dalam bahasa Melayu beberapa puisi Rumi telah diterjemahkan pada abad ke-16 M, antara lain oleh Hamzah Fansuri. Dalam bahasa Jawa terdapat teks abad ke-17 M yang berjudul Suluk Shams Tabriz.
Arberry, penulis buku Classical Persian Literature (1958) mengatakan bahwa Rumi telah menulis tidak kurang dari 34.662 bait syair dalam bentuk ghazal (sajak-sajak cinta mistikal), ruba’i (sajak-sajak empat baris dengan pola rima teratur AABA yang sangat populer dalam sastra Persia) dan matsnawi, karangan bersajak seperti prosa berirama dalam sastra Melayu. Kecuali itu dia juga menulis karangan prosa yang tergolong genre rasa`il (wacana keilmuan) dan khitabah (khutbah). Selengkapnya karangan-karangannya ialah seperti berikut:
Divan-Syamsi-i-Tabriz. Diwan adalah sajak pujian seperti qasidah dalam
sastra Arab. Dalam sastra sufi dan keagamaan ang dipuji ialah sifat, kepribadian, akhlaq dan ilmu pengetahuan yang dimiliki seorang tokoh. Di sini Rumi mengungkapkan pertemuan dan perpisahannya dengan Syamsi Tabriz, serta kerinduan dan cintanya. Cintanya yang mendalam itu mengalami transformasi menjadi cinta transendental. Diwan terdiri dari 36.000 bait puisi yang indah, sebagian besar ditulis dalam bentuk ghazal.
Matsnawi-i-Ma`nawi. Artinya karangan bersajak tentang makna-makna
atau rahasia terdalam ajaran agama. Ini merupakan karya Rumi yang terbesar, tebalnya sekitar 2000 halaman dibagi menjadi enam jilid. Kitab ini juga disebut Husami-nama (Kitab Husam). Apabila Divan-i-Syamsi Tabriz diilhami oleh ajaran gurunya Syamsi Tabriz, Matsnawi ditulis untuk memenuhi permintaan Husamuddin, salah seorang murid dan sekaligus sahabat Rumi yang terkemuka. Husamuddin memohon agar Rumi bersedia memaparkan rahasia-rahasia ilmu tasawuf dalam bentuk karya sastra seperti Hadiqqah al-Haqiqah karya Syekh Sana’i dan Mantiq al-Tayr karya Fariduddin al-`Attar. Rumi memenuhi permohonan itu. Kitab ini selesai dikerjakan setelah 12 tahun sejak dituturkan oleh Rumi kepada Husamuddin. Afzal Iqbal dalam bukunya Life and Works of Rumi (1956) menyebutkan buku ini terdiri dari 25,000 bait prosa lirik, sedangkan Encyclopaedia Britanica (vol.. XIX, 1952) menyebutkan terdiri dari 40.000 bait. Abdul Rahman al-Jami, sufi Persia abad ke-15 M, menyatakan bahwa Matsnawi merupakan ‘tafsir al-Qur’an yang indah dalam bahasa Persia’ (Hast Qur’an dar zaban-i Pahlavi).
Karya Rumi yang lain ialah (3) Ruba`iyat, terdiri dari 3.318 bait puisi lirik yang indah; (4) Fihi Ma Fihi (Di Dalam Ada Seperti Yang Di Dalam). Kumpulan percakapan Rumi dengan sahabat dan beberapa muridnya, membahas berbagai masalah sosial dan keagamaan; (4) Makatib, kumpulan surat-surat Rumi kepada sahabat-sahabat dekatnya, khususnya Syalahuddin Zarkub dan seorang menantu perempuannya. Dalam buku ini Rumi mengungkapkan kehidupan ruhaninya sebagai penempuh ilmu suluk. Di dalamnya juga dimuat nasihat-nasihat Rumi kepada murid-muridnya berkenaan persoalan-persoalan amali (praktis) dalam ilmu tasawuf; (6) Majalis-i-Sab`ah. Himpunan khutbah-khutbah Rumi di berbagai masjid dan majlis-majlis keagamaan.
F. C. Happold (1960) memasukkan Rumi ke dalam tokoh terkemuka mistisisme cinta dan persatuan mistis (unio mystica). Mistisisme jenis ini berusaha membebaskan diri dari rasa terpisah dan kesebatangkaraan diri, dengan menyatukan diri dengan alam dan Tuhan, yang membawa rasa damai dan memberi kepuasan kepada jiwa. Merasa sebatang kara, mistikus cinta berusaha menanggalkan ‘diri khayali’ yang rendah (nafs) dan pergi menuju diri yang lebih agung, Diri Hakiki. Menurut pandangan miskus cinta, manusia adalah makhluq yang paling mampu menyadari individualitasnya. Pada saat yang sama manusia mampu berperan serta dalam segala sesuatu melalui pikiran, perasaan dan imaginasinya. Tujuan mistisisme cinta ialah melakukan perjalanan rohani menuju Diri Hakiki dan kebakaan, di mana Yang Satu bersemayam.
Rumi – sebagaimana telah dikemukakan -- berpendapat bahwa untuk memahami kehidupan dan asal usul ketuhanan dirinya, manusia dapat melakukannya melalui Jalan Cinta, tidak semata-mata melalui Jalan Pengetahuan. Cinta adalah asas penciptaan alam semesta dan kehidupan. Cinta adalah keinginan yang kuat untuk mencapai sesuatu, untuk menjelmakan diri. Rumi malahan menyamakan cinta dengan pengetahuan intuitif. Secara teologis, cinta diberi makna keimanan, yang hasilnya ialah haqq al-yaqin, keyakinan yang penuh kepada Yang Haqq. Cinta adalah penggerak kehidupan dan perputaran alam semesta. Cinta yang sejati dan mendalam, kata Rumi, dapat membawa seseorang mengenal hakikat sesuatu secara mendalam, yaitu hakikat kehidupan yang tersembunyi di balik bentuk-bentuk formal kehidupan. Karena cinta dapat membawa kepada kebenaran tertinggi, Rumi berpendapat bahwa cinta merupakan sarana manusia terpenting dalam menstransendensikan dirinya, terbang tinggi menuju Yang Satu. Kata Rumi:

Inilah Cinta: Terbang tinggi melesat ke langit
Setiap saaat ratusan hijab tercabik
Langkah pertama menyangkal dunia (zuhd)
Kemudian jiwa pun berjalan tanpa kaki

Dalam cinta, dunia dan benda telah raib
Segala yang muncul di benak dipandangnya sepi

Kataku, ”Moga bahagia kau, o Jiwa!
Bertandang riang ke negeri para pencinta

Menyaksikan kerajaan tak terpandang mata
Merasakan alangkah lezatnya gairah dalam dada!
Katakan, o Jiwa, dari mana nafas ini datang
Katakan pula o Hati, bagaimana jantung ini bisa berdenyut!

(Divan)

Dalam bait puisinya yang lain dalam Divan, Rumi mengatakan bahwa Jalan Cinta dalam tasawuf berangkat dari diri yang satu dan menuju ke diri yang lain. Yang pertama adalah nafs yang rendah yang merupakan diri yang palsu dan sering diidentikkan dengan hawa nafsu. Sedangkan yang kedua merupakan diri hakiki, yang di dalamnya terpancar keindahan ilahiyah dari Sang Pencipta. Diri palsu atau hawa nafsu ini diumpamakan sebagai ’orang asing’ oleh Rumi dalam sebuah puisinya:

Jangan bangun rumahmu di tanah orang lain
Bekerjalah demi cita-cita dirimu yang hakiki di dunia ini
Jangan sampai kau terjerat oleh bujukan orang asing
Siapa orang asing itu kecuali nafsumu yang berlebihan pada
dunia?
Dialah sumber bencana dan kepiluan hidupmu
Selama hanya tubuh yang kaurawat dan kaumanjakan
Jiwamu tidak akan subur, juga tidak akan teguh

Rumi adalah pencinta musik. Musik baginya merupakan kendaraan untuk naik ke angkasa raya. Ia adalah daging para pencinta. Fungsi musik keruhanian lebih jauh lagi: Untuk meneguhkan iman dan membuat cinta tambah berkobar. Dalam bait liriknya Rumi menuturkan:

Nada suling dan buluh perindu yang menawan telinga
Asalnya dari putaran biru angkasa raya
Iman yang mengatas rantai khayal dan cita
Tahu siapa pelantun suara merdu dan sumbang

Kami adalah bagian dari Adam, dengannya kami dengar
Nyanyian para malaikat dan serafim di sorga
Kenangan kami, walau tolol dan menyedihkan
Tahu alunan musik taman firdaus yang menawan itu

O, musik adalah daging pencinta berahi
Jiwa bergetar dan melambung ke angkasa dibuatnya
Bara berpijar, api abadi kian berkobar
Kami dengar senantiasa, dan hidup dalam ria dan damai

Kitab Matsnawi diawali dengan kisah seruling bambu, yang didorong oleh kepiluannya berpisah dari pohon bambu yang merupakan asal-usulnya dan hasratnya yang kuat untuk bersatu kembali dengan induknya itu, maka ia melantunkan suara yang merdu. Di sini seruling merupakan kias jiwa manusia yang rindu kembali bersatu dengan asal-usul keruhaniannya, yang oleh para sufi disebut Hari Alastu.

Relevansi
Apa relevansi karya Rumi bagi dunia seperti sekarang, khususnya bagi kita di Indonesia? Saya ingin mengutip Iqbal dalam sajak “Kepada Matahari yang menerangi dunia” yang ditujukan kepada Rumi. Iqbal menyebut Rumi sebagai Raushan Damir, yaitu orang yang memiliki penglihatan ruhani yang tajam sehingga mampu membaca rahasia hati dunia dan peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang tersembunyi. Pikiran-pikiran Rumi yang profetik, kata Iqbal, memiliki daya pembebas dan kekuatan pencerahan, terutama bagi mereka yang bersedia meresapi ajaran sang sufi secara mendalam.
Pertama, Rumi mengajarkan bahwa masyarakat tidak dapat didorong menjadi aktif tanpa apa yang disebut sukr dan junon, yaitu keadaan jiwa dan pikiran (state of mind) yang diliputi rasa mabuk kepayang dan anthusiasme ketuhanan. Kedua, dewasa ini begitu banyak orang yang lupa bahwa jiwa dan ruhani sebenarnya lebih penting dari benda-benda. Rumi mengajarkan bahwa pikiran tidak bermanfaat apabila tidak didasari spiritualitas. Suatu masyarakat juga tidak akan memiliki sendi-sendi kehidupan sosial dan politik yang kuat apabila tidak memiliki moral yang tangguh dan spiritualitas yang tinggi.
Ketiga, Rumi senantiasa mengingatkan bahwa masyarakat yang sedang mengalami krisis perlu mempelajari kembali nilai-nilai keruhanian dari agama, bukan hanya bentuk formal peribadatannya. Rumi mengingatkan agar manusia mau mempelajari betapa pentingnya hubungan agama dengan politik. Di sini sang Sufi berbicara tentang Politik Islam, bukan tentang Islam Politik. Islam Politik adalah upaya menjadikan Islam sebagai kendaraan politik. Politik Islam adalah sebaliknya, ialah bagaimana melakukan kegiatan politik dan menjalankan kekuasaan berdasarkan moral Islam yang mengutamakan keadilan.
Dalam Javid Namah, Iqbal mengecam cendekiawan Muslim yang sebagian besar acuh tak acuh terhadap pembinaan pribadi dan pendidikan umat. Mereka membiarkan pemerintahan jatuh ke tangan orang-orang yang tidak berkeahlian dalam bidangnya, tidak memiliki wawasan kebudayaan, rakus serta mementingkan diri sendiri. Sedangkan umat dibiarkan miskin, bodoh dan terkebelakang, serta jahil terhadap hakikat ajaran agama dan kebudayaan Islam.
Keempat, Rumi mengatakan bahwa suatu masyarakat akan mudah dilanda nihilisme dan dekadensi, apabila memandang manusia semata-mata sebagai mahluq kebendaan dan melupakan bahwa secara hakiki manusia adalah mahluq keruhanian. Masyarakat demikian akan mudah dilanda krisis, apalagi bilamana tidak memiliki tatanan sosial dan kehidupan ekonominya belum mantap, sebagaimana kaum Muslimin pada abad ke-13 M sehingga negerinya mudah ditaklukkan kekuatan asing.
Hal yang sama berlaku pula bagi kebudayaan. Tanpa diberi landasan nilai-nilai dan cita-cita ruhani yang mantap, kebudayaan suatu bangsa akan mudah rapuh dan akibatnya suatu bangsa akan mudah diombang-ambingkan bangsa lain yang lebih kuat. Kebudayaan yang tidak dilandasi nilai agama dan ruhani tidak pula bisa bertahan lama, serta tidak bisa dijadikan landasan untuk menciptakan jati diri. Tanpa memiliki kebudayaan suatu beragama tidak akan mampu pula menciptakan sejarah dan menegakkan keberadaan dan martabatnya di tengah bangsa-bangsa lain.
Kelima, agar manusia selamat maka tujuan hidupnya harus ditegakkan di atas keabadian atau nilai-nilai yang abadi, bukan di atas kesementaraan atau nilai-nilai yang bersifat sementara. Segala yang bersifat sementara, seperti halnya tubuh jasmani, mudah lapuk, begitu pula dengan materialisme, hedonisme material, konsumerisme, relativisme budaya dan lain-lain yang sejenis.
Rumi tampil sebagai tokoh terkemuka pada zamannya setelah menyadari bahwa banyak orang di sekelilingnya memeluk suatu agama disebabkan situasi-situasi tertentu yang tidak disadari penyebabnya. Setelah mereka memeluk suatu agama dan memperoleh pengetahuan formal tentang agama yang diianutnya mereka pun merasa puas. Dalam kenyataan perilaku, kepribadian dan pikiran mereka tidak mengalami perubahan yang berarti. Begitu pula pengajaran yang diberikan kepada mereka selama ini ternyata tidak dengan serta merta mampu mendorong hati dan perasaan mereka tumbuh dengan baik, dalam arti tertuju pada sesuatu yang lebih positif dan bermakna. Perilaku, jiwa, kepribadian dan pemikiran seseorang bisa berubah apabila sikap, pandangan hidup dan gambaran dunia (worldview) dalam jiwa mereka mengalami perubahan. Agar itu bisa terjadi maka kesadaran batinnya harus dirubah. Ini merupakan tugas ilmu-ilmu agama, khususnya tasawuf dan falsafah.
Rumi juga berpendapat bahwa pikiran seseorang akan terang dan memperoleh ’pencerahan’ apabila memiliki perasaan positif terhadap segala sesuatu. Rumi menyadari – dalam pengalamannya – bahwa pertentangan berlarut-larut yang timbul antar golongan masyarakat, juga di kalangan penganut agama yang sama namun berlainan madzab, sering terjadi karena satu sama lain tidak saling mengetahui keadaan masing-masing. Sebagai seorang guru yang berpengalaman, Rumi insaf bahwa ternyata ilmu syariat, fiqih dan ilmu mantiq (logika) yang diajarkan kepada murid-muridnya ternyata tidak lebih sebagai sarana belaka, yang bisa saja melahirkan kebaikan atau keburukan, tergantung pada kecenderungan hati dan kepribadian masing-masing.
Semua itu mendorong Rumi mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar. Misalnya: Jika ilmu pengetahuan dan logika membuat orang semakin pandai dan cerdik, mengapa pada saat yang sama menimbulkan permusuhan? Mengapa orang beriman berpikiran sempit dan banyak melakukan penyimpangan? Apakah pandangan sempit merupakan sifat dan ciri para pendiri agama besar? Apa sebenarnya nilai kitab suci bagi orang beriman? Apakah hanya untuk dibaca dengan suara merdu dan tidak untuk ditafsirkan dalam rangka menjawab realitas kehidupan? Mengapa orang beriman yang tahu isi kitab suci gagal dalam tindakan dan muamalah? Jika rasa cinta tumbuh dalam diri seseorang, mengapa sikapnya lantas berubah, pemahaman yang segar lantas muncul dan perbedaan pendapat tentang hal-hal yang bersifat furu’ lantas dilupakan?
Whinfield, salah seorang penerjemah karangan Rumi dalam bahasa Inggris, mengatakan bahwa karya Rumi Matsnawi merupakan pemaparan tasawuf eksperiensial atau yang dialami secara langsung oleh pengarangnya. Ia bukan merupakan uraian tentang apa dan bagaimana tasawuf. Melalui karyanya Rumi mengungkapkan pengalaman dan gagasan keagamaannya secara puitik. Sedangkan kodrat pengalaman yang disajikan Rumi dalam karyanya benar-benar bersifat keagamaan, yaitu suatu pengalaman yang tidak semata-mata dipompa oleh pemikiran falsafi dan pengetahuan formal tentang agama, melainkan suatu pengalaman yang memiliki daya dan corak hidupnya sendiri disebabkan oleh dorongan ’cinta’ yang membara dalam diri orang yang mengalaminya.
Cinta bagi Rumi memiliki arti sebagai “Perasaan sejagat”, “Sebuah ruh persatuan dengan alam semesta”. Cinta adalah pemulihan terhadap kesombongan yang melekat dalam diri manusia, tabib segala kelemahan dan dukacita. Cinta juga adalah kekuatan yang menggerakkan perputaran dunia dan alam semesta. Cinta pĂșlalah yang memberikan makna bagi kehidupan dan keberadaan kita. Makin seseorang mencintai, makin larutlah ia terserap dalam tujuan-tujuan ilahiyah kehidupan. Dalam tujuan-tujuan ilahiyah penciptaan inilah manusia memperoleh makna yang sebenarnya dari kehidupannya di dunia dan itu pulalah yang memberinya kebahagian rohaniah yang tidak terkira nilainya.


Jakarta 12 Desember 2003

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar